Wednesday, May 30, 2012

Arti Sujud Syukur dan Penjelasannya


FOTO: asramabanjar.wordpress.com
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sujud Syukur." Saya sering melihat orang melaksanakan sujud syukur setelah menjalankan shalat wajib. Mereka mengaku bahwa kebiasaan tersebut dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas karunia-Nya yang telah memberi kesempatan dan kekuatan kepadanya untuk melaksanakan shalat.

Masih menurut mereka, kemampuan untuk melaksanakan shalat adalah sebuah nikmat, bahkan nikmat yang paling besar. Apalagi jika dibandingkan dengan mendapatkan rezeki, kenaikan pangkat, atau lulus ujian sekolah. Kalau mendapat kenikmatan duniawi seperti itu saja disunnahkan sujud syukur, apalagi nikmat ibadah shalat wajib.

Menurut saya, argumentasi mereka sangat bisa diterima. Apakah benar perbuatan mereka menurut syariat agama? Saya yakin bahwa agama itu bukan sekadar logika, tapi syariat.

Atas bantuan ustadz, saya ucapkan jazakumullah khairan katsira.

UZ
Di Jakarta

Jawab:
Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.

Sujud syukur adalah sujud yang dilaksanakan kapan saja ketika kita mendapatkan kenikmatan atau terhindar dari marabahaya. Disunnahkan menghadap qiblat, tanpa keharusan berwudhu terlebih dahulu, tanpa takbir, tanpa tahiyat, dan tanpa salam.

Meskipun sebagian ulama, seperti sebagian pengikut Hanafiyah dan Malikiyah berpendapat bahwa sujud syukur itu hukumnya makruh, tapi jumhur (mayoritas) ulama menyatakan sunnah, karena hal tersebut pernah dipraktekkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, dan para tabi’in.

Abu Bakrah meriwayatkan, ”Bahwa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam ketika mendapatkan kabar gembira beliau bersujud karena bersyukur kepada Allah Subhanhu Wa Ta'ala.” (Riwayat Ahmad, Ibnu Majah, dan Turmudzi).

Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Baihaqi, bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam melakukan sujud syukur kepada Allah Subhanhu Wa Ta'ala ketika mendengar berita raja Hamadan masuk Islam.

Praktek Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tersebut juga diteladani oleh para sahabat. Salah satunya adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Beliau melaksanakan sujud syukur ketika mendengar kabar bahwa Musailamah Al-Kadzdzab (nabi palsu) terbunuh pasukan Muslim. Demikian juga sahabat Ali bin Abi Thalib juga bersujud syukur ketika mengetahui bahwa Dzutsadniyah (tokoh Khawarij) terbunuh. Hal yang sama juga dilakukan oleh Ka’ab bin Malik ketika mendengar kabar langsung dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bahwa taubatnya diterima Allah Subhanhu Wa Ta'ala.

Atas dasar nash-nash yang jelas dan beberapa penjelasan yang kuat di atas, maka kami dapat menarik kesimpulan bahwa hukum sujud syukur itu sunnah. Masalahnya sekarang, kapan atau saat apa sujud syukur itu dilakukan?

Menurut pemahaman kami, kalau sujud syukur itu dilaksanakan setiap kali mendapatkan nikmat, maka setiap detik kita harus sujud syukur, sebab setiap waktu Allah Subhanhu Wa Ta'ala tak henti-hentinya memberi nikmat. Karena itu, menurut kami harus ada batasannya, yaitu setiap mendapat nikmat besar atau terhindar dari musibah besar, dan peristiwa itu tidak terjadi berulang-ulang, bukan setiap nikmat.

Dapat melaksanakan ibadah shalat itu kenikmatan besar yang dikaruniakan kepada kita, tapi kejadiannya berulang-ulang. Yang lebih penting lagi, Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tidak pernah memberi contoh sujud syukur setelah shalat wajib, biar sekali saja. Itulah sebabnya, ulama pengikut Abu Hanifah dan pengikut Imam Malik menyatakan bahwa sujud syukur yang dilakukan ba’da shalat wajib itu hukumnya makruh. Artinya, tidak dianjurkan.

Sebenarnya tidak hanya Hanafiyah dan Malikiyah yang memakruhkan hal tersebut, tapi juga mayoritas ulama, termasuk golongan Syafi’iyah. Mereka berpendapat bahwa melazimkan sujud syukur usai shalat wajib itu tidak ada dasar hukumnya. Mudah-mudahan bermanfaat. Wallahu a’lam bishawab. (Suara hidayatullah)Dikutip dan Update Judul oleh situs Dakwah Syariah.


Rating: 5

Klasifikasi Tentang Kehidupan

Foto ervakurniawan
Klasifikasi dalam Kehidupan ”Mama dan papa mau menjamu tamu dari luar kota malam ini, Diandra mau ikut?” tanya seorang ibu pada anak perempuan tunggalnya yang berusia sembilan tahun. ”Mama, yang makan-makan itu kan semuanya orang dewasa, tidak ada anak kecilnya. Nanti bicaraannya untuk orang dewasa, aku tidak akan merasa nyaman. Aku di rumah saja,” ujar sang anak.

Di sebuah toko, seorang ibu bertanya pada anaknya, ”Aisyah, ini ada mukena bagus dan lucu. Lihat motifnya bagus pakai sulam pita dan bisa dilipat sampai kecil. Mau beli ini untuk dipakai di sekolahmu?” tanya seorang ibu sambil menyerahkan sebuah mukena yang unik.

”Mama, lokerku di sekolah cukup besar, mukenaku sekarang muat di simpan di sana. Cara melipat mukena ini susah. Ini cocoknya untuk dibawa pergi-pergi,” ujar sang anak yang masih bersekolah di sekolah dasar.

Dua dialog di atas menunjukkan bahwa anak-anak tersebut sudah memahami apa yang dinamakan klasifikasi atau pengelompokan. Pada percakapan pertama tampak bahwa meski si anak adalah anak tunggal yang umumnya manja, ia tidak serta-merta ikut pada acara orang tuanya untuk makan-makan. Ia paham bahwa acara orang dewasa berbeda dengan acara untuk anak.  Ia tahu bahwa baginya lebih baik tinggal di rumah saja.

Pada dialog kedua tampak bahwa meski pada umumnya anak -bahkan orang dewasa sekalipun- senang memiliki barang baru, namun anak tersebut tidak begitu saja menerima tawaran mukena baru. Ia mampu mengklasifikasikan mukena untuk di sekolah dan mana untuk dibawa pergi, sehingga ia tetap memilih mukena lama untuk digunakan di sekolahnya.

Klasifikasi akan memudahkan hidup seseorang. Contoh kecil menata lemari pakaian, misalnya. Orang yang meletakan pakaian dengan klasifikasi yang baik maka akan mudah mengambil barang yang dibutuhkan. Namun sebaliknya, jika lemari tidak diklasifikasi, semua jenis pakaian disimpan begitu saja maka sangat sulit untuk mengambil sesuatu yang diperlukan dalam waktu cepat. Saat membutuhkan dasi, yang terambil bisa kaos kaki. Saat butuh baju pesta, yang didapat malah pakaian rumah.

Kemampuan mengklasifikasi tidak tumbuh begitu saja, namun perlu dibangun sejak bayi. Anak di usia dini harus sudah mulai dibangun kemampuan klasifikasi dalam hal yang kongkrit berdasarkan warna, bentuk, dan ukuran. Hal ini bisa dilatih melalui bermain balok, meronce, dan lain-lain. Sangat penting untuk melatih anak membereskan mainan berdasarkan jenis, ukuran, bentuk, atau warna. Latihan klasifikasi juga bisa dibiasakan dalam kegiatan sehari-hari seperti meletakan benda pada tempatnya dan mengelompokannya.

Jika anak sudah mampu mengklasifikasi benda kongkrit maka ia akan mampu mengklasifikasi pada hal yang abstrak. Dengan demikian saat dewasa ia mampu mengklasifikasi banyak hal, salah satunya ia akan mampu memisahkan mana masalah pribadi, keluarga, dan kantor.

Kemampuan mengklasifikasi bukan hal yang sepele, namun sesungguhnya sangat penting. Maraknya korupsi di negara ini dikarenakan lemahnya kemampuan klasifikasi. Banyak orang yang tak memiliki kemampuan yang kuat dalam mengklasifikasi mana uang pribadi, uang kantor, atau uang negara. Ia menggunakan uang yang ada sesukanya.

Hampir semua aspek kehidupan menuntut kemampuan klasifikasi. Ajaran Islam melarang manusia untuk mencampuradukan antara yang haq dan bathil. Untuk selamat, manusia harus memiliki kemampuan mengklasifikasi mana perintah Allah dan mana larangan-Nya. Bagaimana mungkin seseorang dapat mengklasifikasi hal yang abstrak jika klasifikasi dalam hal kongkrit tidak terbangun baik sejak dini.*Penulis buku (suara Hidayatullah)

Oleh Ida S. Widayanti
Dikutip dan Update Judul oleh situs Dakwah Syariah


Rating: 5

Hukum Wudhunya Menggunakan Kutek

Assalamualaikum...
Pada kesempatan ini ana coba menghadirkan tulisan tentang hukum wudhu dengan orang yang menggunakan kutek, sah atau batal?

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah hukum wudhunya orang yang menggunakan kutek pada kuku-kukunya ?
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjawab:
Sesungguhnya kutek itu tidak boleh dipergunakan wanita jika ia hendak shalat, karena kutek tersebut akan menghalangi mengalirnya air dalam bersuci (pada bagian kuku yang tertutup oleh kutek itu), dan segala sesuatu yang menghalangi mengalirnya air (pada bagian tubuh yang harus disucikan dalam berwudhu) tidak boleh dipergunakan oleh orang yang hendak berwudhu atau mandi, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman:
"Artinya : Maka basuhlah mukamu dan tanganmu". (Al-Maidah : 6)
Jika wanita ini menggunakan kutek pada kukunya, maka hal itu akan menghalangi mengalirnya air hingga tidak bisa dipastikan bahwa ia telah mencuci tangannya, dengan demikian ia telah meninggalkan satu kewajiban di antara beberapa yang wajib dalam berwudhu atau mandi.
Adapun bagi wanita yang tidak shalat, seperti wanita yang mendapat haidh, maka tidak ada dosa baginya jika ia menggunakan kutek tersebut, akan tetapi perlu diketahui bahwa kebiasaaan-kebiasaan tersebut adalah kebiasaan wanita-wanita kafir, dan menggunakan kutek tersebut tidak dibolehkan karena terdapat unsur menyerupai mereka.
(Fatawa wa Rasa'il Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, 4/148. Di susun oleh Fahd As-Sulaiman)
Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami'ah Lil Mar'atil Muslimah edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, terbitan Darul Haq hal. 6-7 penerjemah Amir Hamzah Fakhruddin.

Kumpulan Hadits, Tanda-Tanda Hari Kiamat

Kumpulan Hadits, Tanda-Tanda Hari Kiamat
Apa saja tanda-tanda telah dekat waktu kiamat? Dari hadis-hadis shahih kita bisa mendapatkan informasi mengenai tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat. Diantara tanda-tanda yang tersebut dalam hadis yaitu:

Tanda-tanda dari kehidupan manusia

1. Ketika manusia kesulitan mencari orang yang akan diberi zakat atau sedekah dari hartanya. Ini menandakan suatu masa ketika manusia telah mencapai kemakmurannya. Semua manusia telah memberantas kemiskinan. Kemiskinan telah terhapus dari dunia.

2.Ketika ilmu telah diangkat oleh Allah.Allah mematikan semua manusia yang berilmu. Sehingga tinggalah didunia orang-orang yang Jahil saja. Yaitu saat manusia tidak lagi memperdulikan tentang ilmu agama maupun kemanusian. Manusia sudah tidak ada lagi yang menyebut nama Allah. Manusia sudah terbiasa membunuh sampai-sampai tidak tahu lagi untuk apa dia membunuh. Dengan diangkatnya ilmu dari peradaban manusia, maka manusia berada pada posisi yang lebih rendah dari binatang. Mabuk-mabukan dan Zina menjadi kebiasan manusia.

3. Ketika manusia sudah bosan hidup. Tandanya setiap orang yang melewati suatu kuburan berdoa agar lekas mati lalu masuk kubur.

Tanda-tanda dari Alam:
1. Sering terjadi gempa dan bencana Alam
2. Matahari terbit dari barat
3. Waktu semakin cepat, sehari serasa sejam.

Tanda-tanda besar:
1. Turunnya Isa Al Masih
2. Munculnya Al masih Dajjal (dajjal terbesar). Sedangkan Dajjal kecil telah muncul sejak zaman Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, yaitu para pembohong yang mengaku nabi.
3. Turunya Ya'juj dan Ma'juj
4. Terjadi perang besar antara 2 bangsa yang paling besar.

Terlepas dari tanda-tanda kiamat tersebut, sebenarnya yang lebih patut kita selalu ingat adalah kiamat kecil yang selalu menghampiri manusia yaitu kematian. Kita tidak pernah tahu kapan dan dimana kita akan mati. Mungkin banyak diantara kita menyaksikan keluarga, teman atau tetangga yang tiba-tiba meninggal dunia, padahal beberapa jam sebelumnya masih sempat bersenda gurau dengan kita.Dan yang pasti kita semua akan mati. Orang yang beriman yakin bahwa setelah kematian akan ada kehidupan setelahnya. Sehingga sebelum kematian itulah kita harus telah mengumpulkan bekal untuk kehidupan setelah kematian.

Shahih Bukhari

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ قَالَ أَخْبَرَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقْبَضَ الْعِلْمُ وَتَكْثُرَ الزَّلَازِلُ وَيَتَقَارَبَ الزَّمَانُ وَتَظْهَرَ الْفِتَنُ وَيَكْثُرَ الْهَرْجُ وَهُوَ الْقَتْلُ الْقَتْلُ حَتَّى يَكْثُرَ فِيكُمْ الْمَالُ فَيَفِيضَ

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَكْثُرَ فِيكُمْ الْمَالُ فَيَفِيضَ حَتَّى يُهِمَّ رَبَّ الْمَالِ مَنْ يَقْبَلُ صَدَقَتَهُ وَحَتَّى يَعْرِضَهُ فَيَقُولَ الَّذِي يَعْرِضُهُ عَلَيْهِ لَا أَرَبَ لِي

 حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ النَّبِيلُ أَخْبَرَنَا سَعْدَانُ بْنُ بِشْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُجَاهِدٍ حَدَّثَنَا مُحِلُّ بْنُ خَلِيفَةَ الطَّائِيُّ قَالَ سَمِعْتُ عَدِيَّ بْنَ حَاتِمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ
كُنْتُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَهُ رَجُلَانِ أَحَدُهُمَا يَشْكُو الْعَيْلَةَ وَالْآخَرُ يَشْكُو قَطْعَ السَّبِيلِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَّا قَطْعُ السَّبِيلِ فَإِنَّهُ لَا يَأْتِي عَلَيْكَ إِلَّا قَلِيلٌ حَتَّى تَخْرُجَ الْعِيرُ إِلَى مَكَّةَ بِغَيْرِ خَفِيرٍ وَأَمَّا الْعَيْلَةُ فَإِنَّ السَّاعَةَ لَا تَقُومُ حَتَّى يَطُوفَ أَحَدُكُمْ بِصَدَقَتِهِ لَا يَجِدُ مَنْ يَقْبَلُهَا مِنْهُ ثُمَّ لَيَقِفَنَّ أَحَدُكُمْ بَيْنَ يَدَيْ اللَّهِ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ حِجَابٌ وَلَا تَرْجُمَانٌ يُتَرْجِمُ لَهُ ثُمَّ لَيَقُولَنَّ لَهُ أَلَمْ أُوتِكَ مَالًا فَلَيَقُولَنَّ بَلَى ثُمَّ لَيَقُولَنَّ أَلَمْ أُرْسِلْ إِلَيْكَ رَسُولًا فَلَيَقُولَنَّ بَلَى فَيَنْظُرُ عَنْ يَمِينِهِ فَلَا يَرَى إِلَّا النَّارَ ثُمَّ يَنْظُرُ عَنْ شِمَالِهِ فَلَا يَرَى إِلَّا النَّارَ فَلْيَتَّقِيَنَّ أَحَدُكُمْ النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

 حَدَّثَنَا أَحْمَدُ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ عَنْ الْحَجَّاجِ بْنِ حَجَّاجٍ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي عُتْبَةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيُحَجَّنَّ الْبَيْتُ وَلَيُعْتَمَرَنَّ بَعْدَ خُرُوجِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ
تَابَعَهُ أَبَانُ وَعِمْرَانُ عَنْ قَتَادَةَ وَقَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ عَنْ شُعْبَةَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى لَا يُحَجَّ الْبَيْتُ وَالْأَوَّلُ أَكْثَرُ سَمِعَ قَتَادَةُ عَبْدَ اللَّهِ وَعَبْدُ اللَّهِ أَبَا سَعِيدٍ

 حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ حَدَّثَنَا الزُّهْرِيُّ قَالَ أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَنْزِلَ فِيكُمْ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا مُقْسِطًا فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ وَيَفِيضَ الْمَالُ حَتَّى لَا يَقْبَلَهُ أَحَدٌ

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا جَرِيرٌ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ الْقَعْقَاعِ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا الْيَهُودَ حَتَّى يَقُولَ الْحَجَرُ وَرَاءَهُ الْيَهُودِيُّ يَا مُسْلِمُ هَذَا يَهُودِيٌّ وَرَائِي فَاقْتُلْهُ

 حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ صَالِحٍ عَنْ الْأَعْرَجِ قَالَ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا التُّرْكَ صِغَارَ الْأَعْيُنِ حُمْرَ الْوُجُوهِ ذُلْفَ الْأُنُوفِ كَأَنَّ وُجُوهَهُمْ الْمَجَانُّ الْمُطْرَقَةُ وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا قَوْمًا نِعَالُهُمْ الشَّعَرُ

 حَدَّثَنِي يَحْيَى حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ هَمَّامٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا خُوزًا وَكَرْمَانَ مِنْ الْأَعَاجِمِ حُمْرَ الْوُجُوهِ فُطْسَ الْأُنُوفِ صِغَارَ الْأَعْيُنِ وُجُوهُهُمْ الْمَجَانُّ الْمُطْرَقَةُ نِعَالُهُمْ الشَّعَرُ
تَابَعَهُ غَيْرُهُ عَنْ عَبْدِ الرَّزَّاقِ

 حَدَّثَنَا الْحَكَمُ بْنُ نَافِعٍ حَدَّثَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَقْتَتِلَ فِئَتَانِ دَعْوَاهُمَا وَاحِدَةٌ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ هَمَّامٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَقْتَتِلَ فِئَتَانِ فَيَكُونَ بَيْنَهُمَا مَقْتَلَةٌ عَظِيمَةٌ دَعْوَاهُمَا وَاحِدَةٌ وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ قَرِيبًا مِنْ ثَلَاثِينَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ

 حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ حَدَّثَنَا عُمَارَةُ حَدَّثَنَا أَبُو زُرْعَةَ حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا فَإِذَا رَآهَا النَّاسُ آمَنَ مَنْ عَلَيْهَا فَذَاكَ حِينَ
{ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ }

 أَخْبَرَنَا دَاوُدُ بْنُ شَبِيبٍ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ قَتَادَةَ أَخْبَرَنَا أَنَسٌ قَالَ
لَأُحَدِّثَنَّكُمْ حَدِيثًا لَا يُحَدِّثُكُمُوهُ أَحَدٌ بَعْدِي سَمِعْتُهُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ وَإِمَّا قَالَ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَظْهَرَ الْجَهْلُ وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا وَيَقِلَّ الرِّجَالُ وَيَكْثُرَ النِّسَاءُ حَتَّى يَكُونَ لِلْخَمْسِينَ امْرَأَةً الْقَيِّمُ الْوَاحِدُ

 حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَمُرَّ الرَّجُلُ بِقَبْرِ الرَّجُلِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي مَكَانَهُ

Shahih Muslim

حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ أَخْبَرَنَا ثَابِتٌ عَنْ أَنَسٍ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى لَا يُقَالَ فِي الْأَرْضِ اللَّهُ اللَّهُ

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَعَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ يَعْنُونَ ابْنَ جَعْفَرٍ عَنْ الْعَلَاءِ وَهُوَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا فَإِذَا طَلَعَتْ مِنْ مَغْرِبِهَا آمَنَ النَّاسُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ فَيَوْمَئِذٍ
{ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا }

 حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ يَعْنِي الدَّرَاوَرْدِيَّ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَدْعُو الرَّجُلُ ابْنَ عَمِّهِ وَقَرِيبَهُ هَلُمَّ إِلَى الرَّخَاءِ هَلُمَّ إِلَى الرَّخَاءِ وَالْمَدِينَةُ خَيْرٌ لَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يَخْرُجُ مِنْهُمْ أَحَدٌ رَغْبَةً عَنْهَا إِلَّا أَخْلَفَ اللَّهُ فِيهَا خَيْرًا مِنْهُ أَلَا إِنَّ الْمَدِينَةَ كَالْكِيرِ تُخْرِجُ الْخَبِيثَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَنْفِيَ الْمَدِينَةُ شِرَارَهَا كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

 حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ يَعْنِي ابْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْقَارِيَّ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَحْسِرَ الْفُرَاتُ عَنْ جَبَلٍ مِنْ ذَهَبٍ يَقْتَتِلُ النَّاسُ عَلَيْهِ فَيُقْتَلُ مِنْ كُلِّ مِائَةٍ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ وَيَقُولُ كُلُّ رَجُلٍ مِنْهُمْ لَعَلِّي أَكُونُ أَنَا الَّذِي أَنْجُو
و حَدَّثَنِي أُمَيَّةُ بْنُ بِسْطَامَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا رَوْحٌ عَنْ سُهَيْلٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَهُ وَزَادَ فَقَالَ أَبِي إِنْ رَأَيْتَهُ فَلَا تَقْرَبَنَّهُ

حَدَّثَنِي حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَخْبَرَنِي ابْنُ الْمُسَيَّبِ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ أَخْبَرَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ح و حَدَّثَنِي عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ شُعَيْبِ بْنِ اللَّيْثِ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ جَدِّي حَدَّثَنِي عُقَيْلُ بْنُ خَالِدٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَنَّهُ قَالَ قَالَ ابْنُ الْمُسَيَّبِ أَخْبَرَنِي أَبُو هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَخْرُجَ نَارٌ مِنْ أَرْضِ الْحِجَازِ تُضِيءُ أَعْنَاقَ الْإِبِلِ بِبُصْرَى

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ قَالَ عَبْدٌ أَخْبَرَنَا و قَالَ ابْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ ابْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَضْطَرِبَ أَلَيَاتُ نِسَاءِ دَوْسٍ حَوْلَ ذِي الْخَلَصَةِ وَكَانَتْ صَنَمًا تَعْبُدُهَا دَوْسٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ بِتَبَالَةَ

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ عَنْ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ فِيمَا قُرِئَ عَلَيْهِ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَمُرَّ الرَّجُلُ بِقَبْرِ الرَّجُلِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي مَكَانَهُ

و حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ يَعْنِي ابْنَ مُحَمَّدٍ عَنْ ثَوْرِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ أَبِي الْغَيْثِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَخْرُجَ رَجُلٌ مِنْ قَحْطَانَ يَسُوقُ النَّاسَ بِعَصَاهُ

 حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَابْنُ أَبِي عُمَرَ وَاللَّفْظُ لِابْنِ أَبِي عُمَرَ قَالَا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا قَوْمًا كَأَنَّ وُجُوهَهُمْ الْمَجَانُّ الْمُطْرَقَةُ وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا قَوْمًا نِعَالُهُمْ الشَّعَرُ



Rating: 5

Panduan Agar Anak-Anak Mengenal Allah




Judul buku: Ayo Mengenal Allah (Pendekatan Psikologis Bagi Anak).
Penulis: Sutrisna Sumadi dan Rafi'udin
Penerbit: PT. Mutiara Sumber Widya
Tahun : 2002


Mendidik anak merupakan kewajiban setiap orang tua. Baik dan buruknya akhlak anak, tergantung pada budi pekerti yang ditanamkan oleh orang tua. Anak adalah amanat bagi kedua orang tua dan hatinya yang suci merupakan potensi dasar bagi perkembangan akhlak yang baik. Apabila ia dididik dan dibiasakan pada kebaikan, maka ia akan tumbuh dengan kebaikan itu, dan insyaAllah akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sebaliknya jika dibiasakan untuk berbuat kejahatan serta dibiarkan tanpa pengawasan, pendidikan dan pengarahan dari orang tua, maka ia akan berperangai dan berperilaku buruk.

Sebagai panduan bagaimana orang tua maupun guru dalam mendidik anak menjadi anak yang sholeh, buku dengan judul 'Ayo Mengenal Allah' dapat dan layak menjadi rujukan.



Rating: 5

Saturday, May 26, 2012

Hadits: Doa Bulan Rajab


Berikut do’a yang biasa kita dengar bahkan telah kita amalkan setiap memasuki bulan rajab.

اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبلغنا رمضان

Senantiasa kita mendengar do’a sebagaimana tersebut diatas, saat mendekatnya kita dengan bulan suci Ramadhan. Kebanyakan da’i atau penceramah menyandarkan do’a ini kepada Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam. Namun yang menjadi persoalan adalah, apakah benar do’a ini berasal dari Rasulullah (haditsnya shahih)?
اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبلغنا رمضان
 Senantiasa kita mendengar do’a sebagaimana tersebut diatas, saat mendekatnya kita dengan bulan suci Ramadhan. Kebanyakan da’i atau penceramah menyandarkan do’a ini kepada Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam. Namun yang menjadi persoalan adalah, apakah benar do’a ini berasal dari Rasulullah (haditsnya shahih)?

Nash Hadits tersebut, Telah disebutkan dalam Musnad Imam Ahmad (1/259)

حدثنا عبد الله ، حدثنا عبيد الله بن عمر ، عن زائدة بن أبي الرقاد ، عن زياد النميري ، عن أنس بن مالك قال : كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا دخل رجب قال : اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبارك لنا في رمضان وكان يقول : ليلة الجمعة غراء ويومها أزهر .

Menceritakan kepada kami Abdullah, Ubaidullah bin Umar, dari Zaidah bin Abi ar-Raaqod, dari Ziyad an-Numairi, dari Anas bin Malik berkata ia, Adalah Nabi shallallohhu ‘alaihi wasallam apabila masuk bulan Rajab, beliau berdo’a ; “Ya Alloh berkahilah kami dibulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami kepada Bulan Ramadhan. Kemudian beliau berkata, “Pada malam jumatnya ada kemuliaan, dan siangnya ada keagungan.

Takhrij hadits,
Diriwayatkan oleh Ibn Sunny dalam “Amal Yaumi wal Lailah” (659) dari jalur ibn Mani’ dikabarkan oleh Ubaidullah bin Umar Al-Qawaririy.
Dan Baihaqiy dalam Su’abul Iman (3/375) dari jalur Abi Abdullah al-Hafidz, dikabarkan dari Abu Bakr Muhammad bin Ma’mal, dari AlFadhil bin Muhammad Asy-Sya’raniy, dari Al-Qawaririy.
Dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (6/269) dari jalur Habib bin Al-Hasan, dan ‘Ali bin Harun ia berkata, menceritakan kepada kami Yusuf Al-Qadhi, dari Muhammad bin Abi Bakr, dari Zaidah bin Abi ar-Raaqod.
Dan AlBazar dalam Musnadnya (Mukhtasar Zawaidul Bazar li Hafidz 1/285) dari jalur Ahmad bin Malik al-Qusyairi dari Zaidah. 

Hadits tersebut memiliki 2 cacat,
Ziyad bin Abdullah An-Numairy  Berkata Yahya bin Ma’in ; Haditsnya Dhaif
Berkata Abu Hatim ; Haditsnya ditulis, tapi tidak (bisa) dijadikan Hujjah
Berkata Abu ubaid Al-Ajry ; Aku bertanya kepada Abu Daud tentangnya, maka ia mendhaifkannya.
Ibnu Hajr berkata : Ia Dhaif
Zaidah bin Abi Ar-Raaqod  Berkata Al-Bukhary : Haditsnya Mungkar
Abu Daud berkata : Aku tidak mengenalnya
An-Nasa’i berkata : Aku tidak tahu siapa dia
Adz-Dzahaby berkata : Tidak bisa dijadikan hujjah 

Komentar Ahlul Ilmi tentang hadits ini, 

Al-Baihaqiy dalam Su’abul Iman (3/375) berkata, telah menyendiri Ziyad An-Numairi dari jalur Zaidah bin Abi ar-Raqad, Al-Bukhary berkata, Hadits dari keduanya adalah mungkar. 

An-Nawawy dalam Al-Adzkar (274) berkata, kami telah meriwayatkannya dan terdapat kedhaifan dalam sanadnya.