Showing posts with label Perpustakaan Islam. Show all posts
Showing posts with label Perpustakaan Islam. Show all posts

Saturday, July 26, 2014

Perpustakaan di Masa Kejayaan Islam


Pada Masa Kejayaan Islam setiap Masjid Memiliki Perpustakaan, Sekarang?

Dakwah Syariah | Memasuki tahun baru Islam 1435 Hijriyah, ada banyak hal kasus yang harus perlu dilakukan perbaikan untuk seluruh umat islam di seluruh dunia termasuk di Indonesia.

Salah satu hal yang dinilai masih kurang yaitu terkait kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan yang harus terus perlu ditingkatkan. Penurunan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan dalam dunia islam tidak terlepas dari minimnya kepedulian umat Islam mengenai sarana dan prasarana untuk menghasilkan banyak teknologi dan ilmu pengetahuan bernama perpustakaan.

Pada masa keemasan islam terdahulu, Pada Masa Kejayaan Islam, setiap Masjid Memiliki Perpustakaan, Sekarang?

Sejarah mencatat bagaimana peran perpustakaan menjadi sangat penting untuk melahirkan ilmuwan-ilmuwan besar dunia seperti Ibnu Rusdy, Ibnu Syna, dan ilmuwan muslim kelas dunia lainya.

Tidak hanya perpustakaan saja, tapi dunia penulisan buku juga sudah berlangsung saat kemajuan islam waktu itu. Walau berbeda dengan penulisan buku sebagaimana penulisan buku dijaman sekarang ini, penulisan buku di era kekhalifahan dilakukan di masjid.


Dikutip dari republika.co.id (6/11/13), Proses penulisan buku di era kekhalifahan boleh dibilang sangat unik. Pada era itu, sarjana dan ulama menjadikan masjid sebagai tempat untuk menyusun buku. Sebelum sebuah buku diterbitkan, seorang penulis atau ilmuwan harus mempresentasikan isi bukunya kepada publik.

‘’Mereka melakukannya di masjid dengan cara dibaca atau didiktekan,” papar Ziauddin Sardar. Paparan penulis atau ilmuwan itu lalu didengarkan masyarakat umum dan dikopi oleh seorang warraqin, yang bekerja sebagai penulis yang menyalin berbagai manuskrip yang dipesan para pelanggannya.

Seiring semakin tingginya angka produksi buku, umat Islam pada masa itu mulai mendirikan perpustakaan. Lagi-lagi, masjid menjadi tempat untuk menampung buku. Menurut J Pedersen dalam Arabic Book, pada masa itu masyarakat Muslim menyerahkan koleksi bukunya ke masjid untuk disimpan di dar al-kutub (perpustakaan).

Masyarakat di hampir seluruh dunia Islam – mulai dari Atlantik hingga ke Teluk Persia – masjid dijadikan tempat yang aman untuk menyimpan buku. “Buku-buku itu dihadiahkan dan banyak ilmuwan yang mewariskan perpustkaan pribadinya kepada masjid untuk menjamin buku mereka tetap terpelihara,” ungkap R Mackensen dalam “Background of the History of Muslim Libraries”.

Tak heran, jika koleksi buku yang dimiliki perpustakaan masjid begitu melimpah. Di Allepo, Suriah, misalnya, perpustakaan masjid tertua bernama Sufiya mengoleksi buku hampir 10 ribu volume. Buku-buku itu merupakan pemberian dari penguasa kota Aleppo yang termasyhur, Pangeran Sayf al-Dawla. Gerakan wakaf buku ke perpustakaan masjid yang dipelopori pemimpin itu juga diikuti oleh para ilmuwan dan intelektual.

    O Pinto dalam bukunya bertajuk “The Libraries of the Arabs during the time of the Abbasids,’ in Islamic Culture”. Menurutnya, hampir di setiap masjid dan lembaga pendidikan yang tersebar di dunia Islam, pada masa itu, dipastikan memiliki perpustakaan dengan jumlah buku yang melimpah.

Menurut Pinto, di Baghdad terdapat hampir 36 perpusatakaan umum – sebelum kota metropolis intelektual itu diluluh-lantakan pasukan tentara Mongol. Di pusat pemerintahan Abbasiyah itu juga terdapat ratusan pedagang buku dan penerbitan.

Dalam buku berjudul The Rabic Book karya Yaqut Mu’jam yang diterjemahkan G French disebutkan, di kota Merw – wilayah Persia Timur – pada tahun 1216 hingga 12 18 M terdapat 10 perpustakaan umum. Dua perpustakaan berada di masjid dan sisanya di madrasah.

“Bahkan di Spanyol Muslim terdapat 70 perpustakaan umum,” ungkap G Le Bon dalam bukunya berjudul La Civilisation des Arabes. Sejak abad ke-9 M, perpustakaan telah tersebar luas di kota-kota Islam. Di zaman itu, perpustakaan yang megah dan besar juga telah hadir di Kairo, Aleppo dan kota-kota besar lainnya di Iran, Asia Tengah dan Mesopotamia.

Perpustakaan Islam di Masjid Istiqlal


Profil Perpustakaan Masjid Istiqlal

Dakwah Syariah | Mungkin masih banyak diantara kita yang belum tahu Perpustakaan Masjid Istiqlal yang lokasinya ada di dalam Masjid Istiqlal.

Masjid Istiqlal Jakarta merupakan salah satu masjid terbesar di Asia Tenggara. Kemegahan bangunan dari Masjid Istiqlal Jakarta memang sangat Indah dan megah. Kemegahan dari Masjid Istiqlal semakin sempurna ketika di dalamnya juga memiliki Fasilitas Perpustakaan.

Sejarah Masjid Istiqlal

Masjid Istiqlal ialah masjid terbesar di Asia Tenggara. Sebagai rasa syukur atas kemerdekaan yang diperoleh republik Indonesia masjid Istiqlal dapat kita artikan Merdeka.

Ide awal pembangunan masjid ini ialah dari bapak. KH. Wahid hasyim (menteri agama tahun 1950) dan bapak Anwar Cokroaminoto. Tahun 1953 dibentuk lah pantia pembangunan masjid Istiqlal yang diketuai oleh Bapak. Anwar Cokroaminoto. Beliau menyampaikan rencana pembangunan masjid pada Ir. Soekarno dan ternyata mendapatkan sambutan hangat dan akan mendapat bantuan sepenuhnya dari presiden.

Ir. Soekarno sejak tahun 1954 oleh panitia diangkat menjadi kepala bagian teknik pembangunan Masdjid Istiqlal, dan beliau juga menjadi ketua dewan juri untuk menilai syayembara maket Istiqlal.

Tahun 1955 diadakan syayembara memebuat gambar dan Maket pembangunan masjid Istiqal. Diikuti oleh 30 Orang peserta dan hanya 27 orang peserta yang menyereahkan gambar. Dan hanya 22 orang saja yang memenuhi persyaratan lomba. Setelah didiskusikan oleh dewa juri yang menjadi pemenang ialah 5 orang dan dari 5 orang terebut terpilih Arsitek F Silaban dengan Sandi ketuhanan.

Pada tahun 1961 diadakan penanaman tiang pancang pertama pembangunan masjid Istiqlal. 17 tahun kemudian bangunan masjid selesai dibangun, dan penggunaannya dilakukan sejak tanggal 22 Februari 1978.

Pembangunan majid ini didanai dengan APBN sebanyak 7.000.000.000 dan 12.000.000 US. Luas tanah areal masjid Istoqlal ialah 9.3 hektar. Lokasi pembangunan gedung ialah seluas 2,5 hektar terdiri dari; gedung Induk/Utama dan balkon bertingkat lima luasnya 1 hektar, bangunan teras 1,5 hektar, Areal parkir luasnya 3,35 Hektar, Pertamaan dan air mancur seluas 3,47 hektar.


Fasilitas Perpustakaan Masjid Istiqlal

Salah satu pengunjung Perpustakaan Masjid Istiqlal yang sedang asyik membaca buku | Gambar: Republika

Perpustakaan Masjid Istiqlal berlokasi di dalam lingkungan Masjid Istiqlal tepatnya ada pada Ruang 7 yang lokasinya ada di dalam.

Perpustakaan Masjid Istiqlal ini memiliki Total Koleksi Buku 14.945 judul (29.142 eks). Koleksi dari Perpustakaan Masjid Istiqlal terdiri atas: 60% bidang agama, 40% bidang lainnya (umum).

    Koleksi Buku
        Bahasa Indonesia: 6.204 judul/14.403 eks.
        Bahasa Arab: 3.571 judul/5.709 eks.
        Bahasa Inggris: 2.600 judul/4.880 eks.
        Koleksi perpustakaan Anak: 2.570 judul/4.150 eks.
    Koleksi Terbitan Berkala terdiri atas majalah, buletin dan surat kabar
    Koleksi Audio Visual meliputi DVD, VCD, CD dan Kaset tentang ceramah agama, qiraat, dialog, kisah-kisah teladan, bermain dan bernyanyi, pelajaran bahasa Arab, kaifiyat shalat, ensklopedia ana muslim, dan lain-lain

Untuk jadwal layanan dari Perpustakaan Masjid Istiqlal yaitu:

    Senin – Jumat : 09.00 – 15.00
    Sabtu: 09.00 – 12.00
    Ahad dan libur hari-hari besar perpustakaan TUTUP

Jika anda ingin datang dan berkunjung ke Perpustakaan Masjid Istiqlal, silahkan datang langsung ke Masjid Istiqlal tepatnya ada pada Ruang 7 yang lokasinya ada di dalam.

Jika anda ingin bertanya langsung terkait dengan keberadaan Perpustakaan Masjid Istiqlal, silahkan anda bisa menghubungi Contact di Nomor Telp/Fax 021-3850432.

Anda juga bisa melihat koleksi-koleksi judul buku yang ada di Perpustakaan Masjid Istiqlal melalui katalog Online Perpustakaan Masjid Istiqlal disini.

Referensi Bacaan:
    Direktori masjid Bersejarah
    Departemen Agama RI
    Katalog Online Perpustakaan Masjid Istiqlal

Perpustakaan Islam di Masjid Megah Jerman


Masjid Megah di Jerman ini Miliki Fasilitas Perpustakaan

Dakwah Syariah | Di Eropa, kemajuan Islam secara bertahap terus mengalami kenaikan. Dengan peningkatan jumlah penduduk muslim di Jerman, pembangunan masjid di Jerman juga ikut bertambah.

Salah satu masjid yang terkenal sangat megah yaitu berada di daerah Cologne, Jerman.

Tidak hanya karena megah dan unik saja, Masjid ini juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas termasuk fasilitas Perpustakaan. Perpustakaan dinilai dapat membantu umat muslim di Jerman untuk belajar lebih banyak tentang Islam tapi juga bisa belajar berbagai ilmu pengetahuan yang tersedia di Perpustakaan Masjid di Jerman ini.

Salah satu keunikan yang bisa mudah terlihat dari bentuk bangunan masjid ini yaitu terletak pada bentuk bangunanya.

Cologne Central Mosque dilihat dari samping atas |gambar: archello.com

Jika biasanya Masjid memiliki kubah yang bentuknya setengah lingkaran dengan lambang bulan sabit dan bintang di atasnya. Tapi tidak dengan mesjid yang ada di Jerman yang memiliki bentuk yang unuk dengan arsitektur yang cantik.

Dikutip dari szaktudas.com (10/7/14), Masjid yang besar dan penuh dengan jiwa seni yang ada di Cologne, Jerman itu bernama Cologne Central Mosque, yang dikelolah oleh komunitas Muslim Jerman-Turki, Diyanet Isleri Turk Islam Birligi (DITIB).

Masjid Cologne ini tidak terlalu terlihat mencolok, tidak seperti masjid pada umumnya yang memiliki kubah khas, kubah menjid ini tidak terlalu besar dan cendrung cembung datar. Berdiri dua buah buah menara setinggi 55 meter tepat disamping bangunan yang ditulis situs resmi pariwisata Cologne.

Mesjid yang dirangcang dengan arsitektur Ottoman dengan gaya Turki ini tidak hanya memiliki ruang salat. Mesjid ini memiliki ruangan lainnya seperti ruang berkumpul komunitas, kantor masjid, perpustakaan, dan ruang untuk seminar.

Rencananya akan dibuat sebuah area bazaar  di bagian lantai bawah atau basement masjid, yang bisa didatangi oleh setiap orang yang ingin berbelanja. Pengunjung bisa langsung masuk ke lantai dasar masjid dari lantai basement. Dilantai inilah pengunjung bisa ruang seminar atau mengajar.

Ketika naik satu lantai lagi, barulah para pengunjung akan menemukan ruang salat yang bisa menampung 2.000-4.000 jamaah.

Tidak ada yang meyangka jika jerman bisa mempunyai masjid sekeren ini. Karena posisi masjid yang berada di samping jalan raya, tepatnya berada di Venloer Strasse 160, Cologne, Jerman anda bisa dengan udah menemukannya. Jadi jika sedang ada disana cobalah untuk mampir melihat kemegahannya.

Perpustakaan Islam di Pondok Pesantren


Pondok Pesantren ini Dilengkapi Perpustakaan

Dakwah Syariah | Pondok pesantren terkadang masih dianggap sebagai tempat yang hanya mempelajari ilmu agama. Anggapan tersebut saat ini harus dibuang jauh-jauh karena tidak semua pondok pesantren hanya mengajarkan ilmu agama saja.

Salah satu pondok pesantren yang sangat dikenal di wilayah Balikpapan, Kalimantan Timur yaitu Ponpes Al-Mujahidin.

Ponpes Al-Mujahidin ini memiliki berbagai fasilitas yang sangat lengkap sehingga membuat kegiatan para santri menjadi tidak monoton dan menjenuhkan. Hal ini tentunya sangat berdampak positif atas aktivitas para santri di Ponpes Al-Mujahidin tersebut.

Salah satu fasilitas yang ada di Ponpes Al-Mujahidin ini yaitu disediakanya fasilitas Perpustakaan. Melalui fasilitas Perpustakaan ini para santri di Ponpes Al-Mujahidin bisa belajar membaca buku-buku yang tidak berisi buku agama saja tapi juga belajar tentang buku-buku berisi pengetahuan umum, dan lain-lain.

Selain memiliki fasilitas perpustakaan di Ponpes Al-Mujahidin ini juga disediakan fasilitas lengkap lainya seperti; asrama, dapur umum, masjid, ruang kelas, laboratorium fisika, kimia, biologi, bahasa, dan komputer.Selain fasilitas tersebut diatas, di Ponpes Al-Mujahidin juga tersedia pula lapangan sepak bola, basket, voli, dan bulutangkis. Maupun fasilitas lain seperti wartel, warnet, mini laundry, bahkan mini market sendiri. “Ekstrakurikuler ini untuk mengembangkan diri para santri,” kata Mas’ud, sebagaimana dikutip dari kaltimpost.co.id (12/7/14).

Meski Ramadhan, kata dia, aktivitas ekstrakurikuler tak berhenti. Seperti Pramuka, bela diri tapak suci, jurnalistik, marching band, dan agrobisnis. Setiap tahun santri senantiasa mengadakan acara tahunan berupa festival Ramadan.

Ia mengatakan, tiga tahun terakhir jumlah calon santri yang ingin mendaftar semakin meningkat. Itulah penyebab ponpes sempat menolak, karena telah terisi penuh dengan kapasitas 860 orang.

Menurutnya, ponpes tidak ingin memberatkan para santri, sehingga diberikan bantuan beasiswa bagi santri yang tidak mampu dan berprestasi. Lulusan Ponpes Al-Mujahidin banyak yang kuliah hingga ke luar pulau dengan bantuan beasiswa tersebut.

Satu guru, kata dia, mengasuh 16-20 santri. Santri dapat memilih program berupa hafalan wajib yang standar dan rutin dilakukan. Sedangkan jika santri ingin lebih memperdalam dan memaksimalkan dapat mengikuti program pilihan khusus yang dibimbing oleh mentor. Untuk study tour bagi santri kerap diadakan tiap tahun. Sedangkan bagi guru dua tahun sekali. Dengan harapan mereka memiliki pola pikir jauh lebih luas dan keterampilan lain.

Ke depan Ponpes Al-Mujahidin juga akan mengembang sistem belajar ke arah media. Dengan penggunaan laptop per santri, kata dia, pembelajaran mereka lebih praktis dan mampu menguasai multimedia. “Ini masih dikaji ulang dan persiapan serta penataan tata tertib. Sehingga proses belajar mengikuti era globalisasi,” ujarnya.

Perpustakaan Islam di Masjid Agung Garut


Profil Perpustakaan Masjid Agung Garut

Dakwah Syariah| Apakah anda sudah pernah berkunjung atau beribadah di Masjid Agung Garut? Jika anda berkunjung atau sedang beribadah di Masjid Agung Garut, jangan lupa untuk menyempatkan diri anda untuk berkunjung ke Perpustakaan Masjid Agung Garut.

Perpustakaan Masjid Agung Garut dibuka untuk umum sehingga anda bisa berkunjung dan membaca koleksi buku-buku yang berada di Perpustakaan Masjid Agung Garut tersebut.

Dikutip dari halaman blog resmi pribadinya (26/3/14), Perpustakaan Masjid Agung Garut didirikan pada bulan Agustus tahun 2001 oleh Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) dibawah bidang pendidikan da’wah dan kepemudaan.

Perpustakaan Masjid Agung Garut ini dibentuk sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas pengetahuan masyarakat melalui membaca, seperti termaktub dalam Al-Qur’an surat Al-Alaq ayat 1 yang berbunyi, “Bacalah dengan menyebut nama Rabb-mu yang menciptakan”.

Aktivitas membaca merupakan salah satu kewajiban bagi setiap muslim dan menjadi faktor penting kebangkitan umat, terlepas dari membaca buku atau membaca ayat-ayat kauniyah, aktivitas membaca yang berkualitas sangat menentukan nilai peradaban manusia kedepannya.

Sebagai umat muslim tentunya harus malu ketika seorang Yahudi pernah menyebutkan bahwa “Kemunduran Umat Muslim karena Umatnya Malas MEMBACA”. Untuk menjawab tuduhan orang Yahudi tersebut tentunya tidak dengan cara marah tapi harus dijawab dengan PERBUATAN umat Islam yang HARUS RAJIn membaca sebagaimana Ayat pertama Al-Qur’an Diturunkan yaitu “IQRA!”, BACALAH!.

Menyadari atas pentingnya budaya baca tersebut maka disinilah pentingnya peran Perpustakaan Masjid Agung Garut untuk membantu menciptakan budaya membaca khususnya untuk yang berada di sekitar Perpustakaan Masjid Agung Garut.

Untuk Sekretariat dan alamat dari Perpustakaan Masjid Agung Garut terletak di Jalan Kabupaten No. 17 Komplek Masjid Agung Garut, Lantai II Kabupaten Garut 4418 Jawa Barat. Telp: 0819 123 686 35. Email: perpus_mag@yahoo.co.id BLOG: perpusmag.blogspot.com

Perpustakaan Islam di Masjid Megah California


Umat Islam di California Miliki Masjid Megah Berfasilitas Perpustakaan

Dakwah Syariah || Di negara-negara Islam, menemukan masjid cukuplah mudah, tapi bagaimana ketika di negara yang menjadikan Islam sebagai minoritas tentunya sulit untuk menemukan masjid terlebih masjid yang besar dan berfasilitas perpustakaan.

Namun di Caifornia Amerika Serikat, saat ini Umat Islam di California Miliki Masjid Megah Berfasilitas Perpustakaan serta sekolah. Keberadaan masjid ini tentunya sangat penting dan memberi manfaat untuk umat Islam yang berada di California dan sekitarnya.

Seperti dikutip dari liputan6.com (15/7/13), Warga muslim Amerika Serikat khususnya yang tinggal di daerah California, dengan suka cita menyambut hadirnya masjid yang baru saja selesai dibangun dan diresmikan pada 22 Juni 2013 lalu yaitu Islamic Center of San Gabriel Valley. Masjid yang mulai dibangun sejak 6 tahun silam itu dirancang untuk menjadi tempat ibadah sekaligus pusat komunitas warga muslim.

Perpustakaan Islam di Masjid Tertua diDunia


Masjid Tertua di Dunia Miliki Fasilitas Perpustakaan, Dibuat oleh Nabi Muhammad

Dakwah Syariah || Masjid pada masa keemasan umat islam bukan hanya untuk mempelajari Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan yang berbau islami saja tapi juga dijadikan untuk mempelajari ilmu pengetahuan yang lebih luas. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya perpustakaan di dalam masjid yang berisi tentang buku-buku umum.

Perpustakaan tertua di dunia yang sekaligus dibangun langsung oleh Nabi Muhammad S.A.W juga menyediakan perpustakaan. Masjid tersebut diberinama Masjid Quba. Masjid yang berlokasi di kota Madinah ini merupakan masjid yang tertua. Nabi Muhammad SAW meletakkan batu pertama pada abad ke-6 masehi. Masjid Quba masih berdiri megah sampai sekarang.

Sebagaimana dikutip dari detikTravel (11/7/13), Masjidil Haram memang punya sejarah panjang sejak zaman Nabi Ibrahim, namun masjid pertama dalam sejarah Islam adalah Masjid Quba. Nah, kalau berkunjung ke Madinah, cobalah bertolak ke arah gerbang barat sekitar 5 Km dari Masjid Nabawi. Tak banyak wisatawan yang sadar, mereka sedang dihadapkan dengan masjid tertua di dunia.

Perpustakaan Islam di 143 Masjid Palembang

Perpustakaan dalam Dunia Islam

Dakwah Syariah | Sebanyak 143 masjid di Kota Palembang telah dilengkapi perpustakaan yang menyediakan ratusan eksemplar buku agama dan pengetahuan umum.

Kepala Badan Arsip dan Perpustakaan Kota Palembang, Tabrani, Minggu mengatakan memang baru 143 masjid yang dilengkapi fasilitas perpustakaan. Namun pihaknya berkomitmen untuk melengkapi ratusan masjid lainnya dengan perpustakaan serupa.

Menurut dia, buku-buku yang tersedia di perpustakaan masjid didominasi ilmu agama dan pengetahuan umum. Setiap masjid disediakan sedikitnya 400 eksemplar buku.

Ia mengatakan, Pemkot menargetkan secara bertahap memasok buku untuk perpustakaan masjid karena terkendala dana, sehingga pihaknya akan memberlakukan sistem perpustakaan secara bergantian.

“Petugas dengan rutin memantau perpustakaan masjid dan ketika dinilai salah satu lokasi tidak efektif tetapi masjid lain membutuhkan maka akan dipindahkan,” ujarnya, seperti dikutip dari aktual.co (10/12/12).

Tabrani menjelaskan, sistem tersebut mereka lakukan untuk memenuhi kebutuhan membaca masyarakat yang kini terus meningkat.

Fausiah (13) warga Palembang mengatakan, sejak beroperasinya perpustakaan masjid, kini anak-anak kampungnya mengisi waktu luang dengan membaca.

Perpustakaan di Dalam Dunia Islam

Perpustakaan dalam Dunia Islam

Dakwah Syariah || Tradisi keilmuan peradaban Islam cukup dinamis. Ini dibuktikan dengan munculnya banyak karya di berbagai disiplin ilmu.

Ragam hasil pemikiran tersebut sebagiannya terdokumentasikan hingga kini dalam bentuk buku cetak ataupun digital.

Terpeliharanya karya para ulama masa lalu itu tidak terlepas dari fungsi dan keberadaan perpustakaan.

Menurut John L Esposito dalam “Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern”, perpustakaan-perpustakaan Islam pernah mengalami kejayaan.

Kegemilangan yang sama hendak dicapai oleh Muslim masa kini. Kegemaran kaum Muslim belajar secara alamiah menghasilkan budaya baca dan kegiatan pelestarian buku.

Koleksi perpustakaan pertama muncul pada periode Umayyah. Beberapa koleksi di perpustakaan itu bahkan masih terjaga hingga sekarang. Kemajuan pengembangan ilmu pengetahuan telah mampu menghadirkan catatan terkait aktivitas kepustakaan dan pengumpulan buku.

Adalah Khalid bin Yazid (704 M), dikenal sebagai sastrawan sekaligus kolektor buku. Mulanya, tradisi pengumpulan dan kepustakaan itu berawal dari perorangan, lembaga masjid, dan lembaga pendidikan. Institusi paling mononjol soal ini adalah masjid.

Khalifah al-Manshur (775 M) disebut-sebut sebagai pendiri cikal bakal perpustakaan. Ia mendirikan biro terjemahan di Baghdad. Pada pemerintahan al-Ma’mun (833 M), inisiatif tersebut disempurnakan dengan pendirian Bayt al-Hikmah yang merupakan perpustakaan pelopor kala itu.

Bahkan, lembaga yang berdiri pada 830 M itu, didaulat sebagai lahan sentral pengetahuan dunia Islam.

Keberhasilan itu merembet ke sejumlah wilayah kekuasaan Islam. Di Kairo, Dinasti Fatimiyah membangun Dar al-Ilmi, keturunan Bani Umayyah di Kordoba Spanyol mendirikan perpustakaan dengan koleksi buku sebanyak 400 ribu jilid.

Geliat penulisan pun meningkat setelah kertas mulai dikenalkan di dunia Islam pada abad ke-8 Masehi.

Penggunaan kertas itu kian populer dan memunculkan ragam profesi baru, salah satunya warraq atau panyalur dan penyalin kertas.

Pada 987 M, Ibn Nadim, yang tersohor sebagai warraq, menulis sebuah kepustakaan penting dengan karyanya yang berjudul al-Fihrist.

Buku itu berisi tentang daftar-daftar buku berikut isinya secara umum. Kesemua buku itu adalah karya yang pernah ia tangani.

Selanjutnya, kepustakaan dikembangkan oleh cendekiawan ternama asal Istanbul, Hajj Khalifah. Ia membuat daftar kitab-kitab klasik dilengkapi uraian singkat isinya. Total keluruhannya berjumlah 14.500 judul buku.

Sayangnya, buku-buku yang ada sepanjang sejarah kerap menjadi sasaran perusakan, baik oleh bencana alam atau ulah tangan manusia. Sejarah mencatat, tentara Mongol di Bahgdad pernah menghancurkan secara massal karya-karya Muslim saat itu.

Pada masa inkuisisi Spanyol, terjadi pemindahan ribuan naskah dari dunia Islam ke perpustakaan personal di Barat. Paling terkenal ialah Perpustakaan Inggris, Bibliotheque, dan Perpustakaan Nasional Prancis.

Pada abad ke-20, kondisi perpustakaan dan pustakawan yang agak memprihatinkan mendorong otoritas sejumlah negara mendirikan perpustakaan nasional untuk menginventarisasi koleksi-koleksi sarjana Muslim.

Seperti yang dilakukan oleh Yordania dan Mesir. Tapi, tetap saja pamor perpustakaan tersebut kurang. Bahkan, kalah dengan perpustakaan umum. Di beberapa negara, perpustakaan umum justru lebih diminati, seperti di Turki, Yordania, Pakistan, dan Malaysia.

sumber || republika.co.id

Perpustakaan Islam di Masjid Agung Sheikh Zayed


Perpustakaan Islam di Menara Masjid Sheikh Zayed Abu Dhabi

Dakwah Syariah || Anda pernah mendengar  Abu Dhabi ? disana, baru-baru ini diresmikan sebuah perpustakaan Islam yang berisi tentng berbagai banyak jenis koleksi. Dari buku yang biasa sampai berbagai jenis koleksi-koleksi kuno yang jika di nilai dengan uang tak mungkin tergantikan. Di Perpustakaan ini juga tersedia koleksi Alquran cetakan Eropa yang dibuat pada 1537 dan 1857. Jumlah total naskah gambar sekitar 50.679. Luar biasa bukan?


Lokasi perpustakaanya ada diatas Kubah Masjid | Gambar: visitabudhabi.ae

Sebagaimana dikutip dari republika.co.id (8/11/11), Fasilitas yang terdapat di Masjid Sheikh Zayed di Abu Dhabi, UEA, bakal kian lengkap. Sebuah perpustakaan budaya Islam baru saja (Senin, 8/11) diresmikan. Uniknya, perpustakaan Islam itu terletak di lantai tiga menara utara masjid itu.

Ketua Pusat Masjid Agung Sheikh Zayed, Ali bin Tamim, mengatakan perpustakaan itu memiliki koleksi sekitar 3.000 buku dari berbagai budaya dan disiplin ilmu yang ditulis lebih dari 12 bahasa. ”Pembukaan perpustakaan bertujuan untuk mempromosikan ilmu dan pengetahuan Islam,” ujarnya.

Tamim menjelaskan, perpustakaan berisikan beberapa naskah yang tak ternilai harganya dan langka. Dia menyebutkan di antaranya Alquran cetakan Eropa yang dibuat pada 1537 dan 1857. Jumlah total naskah gambar sekitar 50.679.


Pengunjung sedang mencari-cari buku di Perpustakaan Masjid Sheikh Sayed | gambar: visitabudhabi.ae

Selain naskah kuno itu, Tamim menyatakan, perpustakaan juga berusaha mengumpulkan sebanyak mungkin warisan peradaban Islam di berbagai dunia. ”Ini bertujuan untuk menyebarkan pengetahuan dan pengembangan budaya kontemporer dan warisan Arab serta Islam. Ini merupakan kontribusi bagi kebangkitan dan pembaruan,” tuturnya.


Sisi lain keindahan dan kemegahan Masjid Sheikh Zayed || gambar: imgc.artprintimages.com

Perpustakaan juga akan menerjemahkan dan memublikasikan berbagai penelitian dan warisan Islam dalam upaya memberikan kontribusi pada bagi budaya dan peradaban Islam. Lokasi perpustakaan, ujar Tamim, sengaja dirancang di menara masjid. Perpustakaan itu merupakan bagian tak terpisahkan dari arsitektur masjid.

Menurutnya, letak perpustakaan itu juga melambangkan kedudukan ilmu pengetahuan dalam sejarah Islam sebagai mercusuar yang memandu dunia menuju jalan kebenaran dan keindahan. Perpustakaan ini terbuka bagi akademisi, peneliti, dan masyaraka umum. Perpustakaan juga manyediakan informasi dalam berbagai bentuk buku, manuskrip, peta, dan sumber elektronik.