Showing posts with label Ilmuwan Muslim. Show all posts
Showing posts with label Ilmuwan Muslim. Show all posts

Friday, July 4, 2014

Ilmuwan Muslim, Ibnu Wafid

Biografi Ibnu Wafid (Farmakologi Penyelidik Obat Bius) 

Nama lengkap Ibnu AWafid adalah Abu Al-Mutarrif abdur Rahman bin Muhammad Al-Lakhmi Ibnu Al-Wafid dibarat dikenal dengan Abenguefit. Tidak banyak yang dapat diketahui mengeanai riwayat hidupnya. Menurut Sa’id Andalusi, Ibnu Wafid lahir pada tahun 398 H/1007 M. Namun ada juga yang menyatakan bahwa ia hidup pada abad kelima Hijriyah.

Ibnu Wafid adalah seorang Muslim Andalus yang terkenal sebagai ahli farmakologi, kedokteran, serta dalam bidang teori-teori pertanian. Setealah belajar ilmu kedokteran pada Abu Qasim az-Zahrawi di Kordova, ia lalu menetap di kawasan Toledo pada tahun 460 H/1067 M. Karya fenomenalnya yang berjudul “Kitab Jami’ al-Thib” oleh orang Eropa kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa latin dengan judl “De Medicinis Universalibus et Particularibus”.

Walaupun ahli di bidang farmasi, ia lebih menyekuai penyembuhan suatu penyakit tertentu dengan cara diet yang tepat. Kalupun terpaksa, maka yang digunakan hanyalah campuran obat-obatan yang sederhana. Dialah yang telah mengumukakan penggunaan ukuran-uukuran tentang diet untuk penyembuhan suatu penyakit, dan ia pulalah yang mengemukakan suatu metode penyelidikan mengenai ‘kelakuan’ obat bius dalam tubuh manusia. Beberapa karya yang di hasilkan oleh Ibnu Wafid, hanyalah tinggal sebagian yang masih dapat di jumpai misalnya:

 “Kitab fi al-Aswiya al-Mutrada”. Buku ini telah diterjemahkan dan diringkas ke dalam bahasa latin oleh Gerard dari Cremona, dengan judul “Liber Albenguefith Phlosophi de Virtutibus Madicinarum et Ciborum”. Buku tersebut juga tealh diterjemahkan keddalam bahasa Hebrew dan Catala. Teks aslinya dalam bahasa Arab, sebagian masih ada, dan belum diterbitkan.
“Kitab al-Wisad fi ath-Thibb”
“Majmu’fi al-Filaha”. Teksnya yang dalam bahasa Arab dan Castilia telah pernah dibahas oleh Gracia Gomez dan Millas.
“De Balneis Semo”. Judul ini disebut oleh Mieli. Namun tidak jelas hubungannya dengan karya-karya yang pernah ditulis sebelumnya oleh Ibnu Wafid.

Ref: Biografi Ilmuwan Muslim

Ilmuwan Muslim, Al-Jahiz

Biografi Al-Jahiz (Peletak Dasar Zoologi Pencetus Teori Evolusi)

Abu Uthman Amr Ibn Bahr al-Kinani al-Fuqaimi al-Basri, demikian nama aslinya yang bergelar al-Jahiz (besar) kerana matanya yang besar, lahir di Basrah, Irak pada 781 ketika berkuasa Kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad.  Al-Jahiz adalah cucu dari seorang budak kulit hitam asal Afrika Timur. Al Jahiz dikenal sebagai penulis untuk :

    Prosa Arab
    Sastra Arab
    Biologi, 
    Zoologi, 
    Sejarah, 
    Filsafat Islam awal, 
    Psikologi Islam, 
    Teologi (ajaran) Mu'tazilah dan 
    Polemik dalam politik-agama.

Ia berasal dari keluarga miskin, untuk mempertahankan hidupnya Al-Jahiz muda menjual ikan di salah satu kanal-kanal Kota Basrah. Namun, kemiskinan tak membuat keluarga Al-Jahiz menyerah begitu saja, sang ibu berperan penting mendorong putranya untuk terus belajar.

Ia melanjutkan belajarnya hingga usia 25 tahun, dan berguru kepada sederet ilmuwan. Otaknya yang brilian membuatnya mampu menguasai beragam ilmu pengetahuan. Waktu luangnya dihabiskan untuk mendiskusikan berbagai subjek ilmu pengetahuan bersama pemuda lainnya di salah satu mesjid di Kota Basrah.

Semua tulisan dan karya-karya penting dilahapnya, termasuk buku-buku terjemahan filsafat Yunani, khususnya buah pemikiran Aristoteles. Pada 816 M ia memutuskan hijrah ke Baghdad untuk menyambangi "Bait al-Hikmah" sebuah pusat studi dan keilmuan terbesar di dunia saat itu. Untuk mengembangkan kemampuannya, ia memanfaatkan peluang yang diberikan para sultan yang memang antusias pada ilmu pengetahuan. Dalam 25 tahun, ia sudah mendapatkan berbagai pengetahuan, termasuk kajian Quran dan Hadits.

Di ibukota Kekhalifahan Abbasiyah ini, Al-Jahiz leluasa mengembangkan karirnya sebagai penulis berbagai subjek ilmu, ia mendapat dukungan dari pihak kerajaan dengan berbagai fasilitas. Sepanjang kariernya sebagai penulis piawai, lebih dari 200 naskah buku telah ia hasilkan. Khalifah Al-Makmun pun tertarik pada kehebatan ilmunya, pada suatu kesempatan ia diundang untuk mengajar anaknya, namun niat itu diurungkan karena anak itu takut pada tatapan mata melotot calon gurunya, dari sinilah sang jenius mendapat julukan Al-Jahiz yang berati si mata melotot.

Kontribusi & Karyanya
Penulis Ensiklopedi Hewan Pertama Terlengkap

Salah satu karya Al-Jahiz yang sangat fenomenal adalah "Kitab al-Hayawan" (Book of Animals), buku ini sempat dihargai 5.000 dinar emas oleh peminatnya. Kitab al-Hayawan merupakan sebuah ensiklopedia zoologi yang terdiri atas tujuh volume. Di dalamnya, Al-Jahiz mengupas dan menguraikan lebih dari 350 jenis binatang, diulas pula tentang kuman, teori evolusi, adaptasi, dan psikologi binatang. Kitab ini dipandang sejarawan sains sebagai karya besar dan terpenting yang telah disumbangkan Al-Jahiz bagi peradaban manusia. Dalam buku ini, Al-Jahiz secara khusus menguraikan teori evolusinya secara komprehensif. Teori itu didasarkan pada pengaruh lingkungan terhadap binatang.

Salah dua tampilan kitab Hayawan
Pencetus Teori Evolusi
Ia adalah ahli zoologi terkemuka dari Basra, Irak ini merupakan ilmuwan Muslim pertama yang mencetuskan teori evolusi. Pengaruhnya begitu luas di kalangan ahli zoologi Muslim dan Barat. Jhon William Draper, ahli biologi Barat yang sezaman dengan Charles Darwin pernah berujar, ”Teori evolusi yang dikembangkan umat Islam lebih jauh dari yang seharusnya kita lakukan. Para ahli biologi Muslim sampai meneliti berbagai hal tentang anorganik serta mineral.” Al-Jahiz lah ahli biologi Muslim yang pertama kali mengembangkan sebuah teori evolusi .

Dalam Kitab Al Hayawan, al-Jahiz adalah orang pertama yang mengeluarkan ide bahwa habitat hewan mempengaruhi kehidupan dan bentuknya, yang mana dikemudian hari hal ini menjadi teori dasar dari pembentukan Teori Evolusi Darwin dan merupakan hal yang tidak dapat dijawab oleh Charles Darwin). Al-Jahiz menganggap bahwa dampak lingkungan berpengaruh terhadap kemungkinan seekor binatang untuk bertahan hidup, dan hal pertama yang dilakukan ialah menggambarkan perjuangan untuk keeksistensiannya dari keberlangsungan seleksi alam semenjak nenek moyang hewan tersebut.Kesimpulan dari teori Al Jahiz tentang perjuangan untuk eksistensi dalam Kitab Al Hayawan telah diringkas sebagai berikut:

"Hewan harus berjuang untuk eksistensinya (jenisnya), untuk sumber daya yang tersisa, untuk menghindari dimakan dan untuk berkembang biak. Faktor lingkungan turut mempengaruhi suatu organisme untuk mengembangkan karakteristik baru untuk memastikan kelangsungan hidup jenisnya akan berubah menjadi spesiaes yang baru. Hewan yang bertahan akan berkembang biak dan mewariskan karakteristik (hasil perjuangan) mereka kepada keturunan. " (Gary Dargan, Intelligent Design, Encounter, ABC)

Pencetus Cikal Bakal Teori Strunggle For Existance
Al-Jahiz merupakan penganut awal determinisme lingkungan. Menurutnya, lingkungan dapat menentukan karakteristik fisik penghuni sebuah komunitas tertentu. Asal muasal beragamnya warna kulit manusia pun, menurutnya, terjadi akibat hasil dari lingkungan tempat mereka tinggal. Hasil pemikiran Al-Jahiz mengenai dampak lingkungan terhadap keberlangsungan hidup binatang, menjadi cikal bakal teori struggle for existence. Ia menguraikan ide seleksi alam dan rantai makanan seperti tertulis dalam Kitab al-Hayawan:

”Binatang terlibat dalam sebuah perjuangan untuk mempertahankan hidupnya; mencari makanan, menghindar jadi mangsa, dan ber kembang biak. Faktor-faktor lingkungan memengaruhi organisme untuk mengembangkan karakteristik baru guna menjamin tetap bertahan hidup, kemudian bertransformasi menjadi spesies baru.”
"Nyamuk akan pergi mencari makanan mereka, yang mereka tahu secara naluri alamiah (insting) bahwa darah adalah hal yang membuat mereka tetap hidup. Begitu mereka melihat gajah, kuda nil atau hewan lain, mereka tahu bahwa kulit telah dibentuk untuk melayani mereka sebagai makanan, dan jatuh di atasnya, mereka menusukan giginya sampai dia yakin bahwa kedalamannya telah cukup untuk menghisap darah. Begitu juga lalat, walaupun mereka hinggap pada berbagai jenis makanan, namaun pada prinsipnya melakukan hal yang sama dengan nyamuk. Dan pada kesimpulannya, semua hewan tidak bisa bertahan tanpa makanan, ada yang dengan berburu hewan dan ada yang diburu. " (Frank N. Egerton, "Sejarah dari Ilmu Ekologi, Bagian 6: Ilmu Bahasa Arab - Asal-Usul dan" Zoologi, Buletin Ecological Society of America, 2002 April: 142-146 [143] )
 Penemu Metode Memperoleh Amoniak dari Kotoran Binatang
Al-Jahiz sudah mampu menjelaskan metode memperoleh ammonia dari kotoran binatang melalui penyulingan. Sosok dan pemikiran Al-Jahiz pun begitu berpengaruh terhadap ilmuwan Persia, Al-Qazwini, dan ilmuwan Mesir, Al-Damiri. Karirnya sebagai penulis ia awali dengan menulis artikel. Ketika itu Al-Jahiz masih di Basra. Sejak itu, ia terus menulis hingga menulis dua ratus buku semasa hidupnya.
Kitab al-Bukhala (Kitab Misers atau keserakahan & ketamakan)
Kumpulan cerita tentang serakah. Humoris dan menyindir, itu adalah contoh terbaik dari gaya prosa Al-Jahiz '. Kitab ini mencerminkan penelitian mendalam dari seorang manusia psikolog. Jahiz menertawakan guru-guru sekolah, pengemis, penyanyi dan ahli-ahli Taurat untuk perilaku serakah mereka. Banyak cerita dari buku ini yang terus dicetak ulang dalam majalah di seluruh dunia yang berbahasa Arab. Buku ini dianggap sebagai salah satu karya terbaik Al Jahiz.

Kitab al-Amsar wa Ajaib al-Bulhan (Buku Tentang Kota-Kota Besar dan Keajaiban Dunia)
Al-Jahiz juga menghasilkan sebuah buku geografi yang berjudul Kitab al-Amsar wa Ajaib al-Bulhan (Buku Tentang Kota-Kota Besar dan Keajaiban Dunia) atau Book of the Metropolises and the Wonders of the World. Buku ini memuat sejumlah lapran dan analisa seputar negeri-negeri yang jauh dan asing. Sebagai sisipan, al-Jahiz menyertakan pola dan ilustrasi berbagai kota dengan menekankan pada segi arsitekturnya.

Kitab al-Bayan wa al-Tabyin (Buku kefasihan dan Penjelasan)
Al Jahiz dianggap sebagai salah satu penulis yang paling terkenal sepanjang masa, karena ia diyakini telah menulis selama hidupnya sekitar 360 buku, dari seluruh lapisan pengetahuan dan hikmat waktunya, al bayan wa tabyeen yang secara harfiah berarti Fasih dan Penjelasan, adalah salah satu karya terakhirnya, di mana ia mendekati berbagai mata pelajaran, seperti pengalaman luar biasa, pidato retoris, pemimpin sektarian, pangeran, serta memberikan perlakuan sinis dan gila dari orang bodoh. Hal ini juga melahirkan sebuah buku di mana ia menyatukan keterampilan dan kefasihan bahasanya , seni keheningan dan seni puisi.

Buku ini dianggap salah satu karya teori sastra dan kritik sastra bahasa Arab paling awal dalam. ( van Gelder, G. J. H. (1982), Beyond the Line: Classical Arabic Literary Critics on the Coherence and Unity of the Poem , Brill Publishers , pp. 1-2, ISBN 9004068546)

Kitab al Jawari wal Moufakharat Ghilman (Kitab puji-pujian dari selir dan kasim)
Dalam bahasa Arab kata jawari adalah jamak dari jariya, berarti seorang hamba perempuan, yang dalam bahasa kita hari ini dikenal dipanggil "selir". Ada dua jenis hamba perempuan: jariya - salah satu yang mengelola rumah tangga dan menjalankan tugas sehari-hari, adalah tipe pertama. Tipe kedua dulu disebut qina (juga dieja qaena). Mereka adalah jariya yang memiliki kemampuan untuk bernyanyi, yang menempatkan dirinya di atas jariya biasa. Seringkali, gadis budak jenis itu mendapatkan banyak uang dan bermetafora menjadi putri-putri mewah dan pedagang kaya. Kata lain dalam judul, ghilman, adalah jamak dari ghoulam kata yang mungkin diterjemahkan kasim, castrato, atau pelayan pria. Bagi kebanyakan ahli kitab puji-pujian pada selir dan kasim adalah buku nakal dari sensualitas, dalam buku ini Al Jahiz menceritakan kita dengan cerita-cerita yang bersifat erotis yang berhubungan dengan persepsi seksualitas pada masanya.

Mufakharat Risalat al-sudan 'ala al-bidan (Keunggulan Si Hitam dari Si Putih)
Al-Jahiz menulis sebagai berikut pada orang kulit hitam:

"Kami (dalam cerita ini ialah Etiopia) telah menaklukkan negeri orang Arab sejauh Mekah dan memerintah mereka yang telah dikalahkan. Kami mengalahkan Dzhu Nowas (Seorang Raja Yahudi Yaman) dan membunuh semua Keluarga Kerajaan, tetapi Anda, Si Putih, tidak pernah menaklukkan negeri kami. Suku kami, Zenghs (Negro dari Pantai Timur Afrika) memberontak empat puluh kali di Eufrat, mendorong penduduk dari rumah mereka dan membuat Oballah mandi darah penting. Si Hitam kuat secara fisik tidak dan tidak ada suku lain yang mengalahkannya. Seorang Hitam bisa mengangkat batu berat dan membawa beban yang lebih besar daripada yang dapat dilakukan oleh beberapa orang Si Putih. Mereka berani, kuat, dan berbagai generasi telah menjadi saksi akan kehebatan dan kurangnya kelemahan mereka. Si Hitam berkata kepada orang Arab, 'Sebuah tanda kebiadaban Anda adalah bahwa ketika Anda kafir Anda menganggap kami sama dengan perempuan ras Anda. Setelah menganut Islam, Anda pikir kebalikannya. Meskipun ini segerombolan padang pasir dengan jumlah laki-laki kami yang menikah dengan wanita Anda dan yang menjadi pemimpin dan membela Anda melawan musuh Anda '".( Yosef AA Ben-Jochannan (1991), African Origins of Major Western Religions , p. 231, 238)

The Essays
Dalam risalah-Nya itu Essay, dia menulis sebuah bab berjudul "Pada" Zanj, di mana Zanj berarti orang kulit hitam, yang ia memuji dan menggunakan determinisme lingkungan untuk menjelaskan mengapa mereka hitam:[17]

"Semua orang setuju bahwa tidak ada orang di bumi yang kemurahan hati adalah sebagai universal juga dikembangkan sebagai Zanj. Orang-orang ini memiliki bakat alami untuk menari mengikuti irama rebana, tanpa perlu mempelajarinya. Tidak ada penyanyi yang lebih baik di mana saja di dunia, tidak ada orang yang lebih halus dan fasih, dan tidak ada orang yang kurang diberikan kepada bahasa menghina ketangguhan. lainnya No bangsa dapat melampaui tubuh mereka dalam kekuatan fisik dan. Salah satu dari mereka akan mengangkat blok besar dan membawa beban berat yang akan melebihi kekuatan Badui sebagian besar atau anggota ras lain.. Mereka berani, energik, dan murah hati, yang merupakan kebajikan bangsawan, dan juga baik-marah dan kecil dengan kecenderungan untuk jahat Mereka selalu ceria, tersenyum, dan tanpa niat jahat, yang tanda karakter yang mulia. "

"Para Zanj mengatakan bahwa Tuhan tidak membuat mereka hitam untuk menjelekkan mereka, melainkan mereka adalah lingkungan yang membuat mereka begitu. Bukti terbaik dari hal ini adalah bahwa ada di antara suku-suku Arab hitam, seperti Bani Sulaim bin Manshur, dan bahwa semua bangsa menetap di Harra, selain Bani Sulaim berwarna hitam. Ini suku mengambil budak dari antara mereka pikiran Ashban untuk ternak dan irigasi untuk pekerjaan manual, tenaga kerja, domestik dan pelayanan, dan istri dari antara Bizantium; dan namun memakan waktu kurang dari tiga generasi untuk Harra untuk memberi mereka semua kulit dari Bani Sulaim. Harra ini adalah seperti bahwa rusa, burung unta, serangga, serigala, rubah, domba, keledai, kuda dan burung yang tinggal di sana semua hitam dan. Putih hitam adalah hasil dari lingkungan, sifat alami dari air dan tanah, jarak dari matahari, dan intensitas panas. Tidak ada pertanyaan tentang metamorfosis, atau hukuman, pengrusakan atau mendukung dijatuhkan oleh Allah,. Selain tanah dari Bani Sulaim memiliki banyak kesamaan dengan negeri Turki, di mana unta, kuda beban, dan segala sesuatu milik orang-orang ini sangat mirip: segala sesuatu dari mereka memiliki tampilan Turki. "

Karya lain
Karya paling awal pada psikologi sosial dan psikologi hewan ditulis oleh al-Jahiz, yang menulis sejumlah karya berurusan dengan organisasi sosial dari semut dan dengan binatang komunikasi dan psikologi.(Amber Haque (2004), "Psikologi dari Perspektif Islam: Kontribusi Awal Cendekiawan Muslim dan Tantangan ke Psikolog Muslim Kontemporer", Jurnal Agama dan Kesehatan 43 (4): 357-377 [376])
Pada abad ke-11, Khatib al-Baghdadi menuduh Al-Jahiz memplagiat sebagian pekerjaannya dari Kitab al-Hayawan of Aristotle. Selain al-Hayawan, beliau juga menulis kitab al-Bukhala (Book of Misers or Avarice & the Avaricious), Kitab al-Bayan wa al-Tabyin (The Book of eloquence and demonstration), Kitab Moufakharat al Jawari wal Ghilman (The book of dithyramb of concubines and ephebes), dan Risalat mufakharat al-sudan ‘ala al-bidan (Superiority Of The Blacks To The Whites).

Dari 200 buku yang pernah ditulis Al-Jahiz, sebanyak 30 buku berhasil diselamatkan, termasuk 87 lembar Book of Animals (kira-kira satu pertiga dari teks asli yang ditulis al-Jahiz) yang kini dipelihara dan disimpan di Perpustakaan Ambrosiana, Milan, Itali.

Wafat
Al-Jahiz kembali ke Basra setelah menghabiskan lebih dari lima puluh tahun di Baghdad. Dia meninggal di Basra pada 869 AD. Penyebab pasti kematian-Nya tidak jelas, tetapi kisah populer adalah bahwa sebuah kecelakaan, di mana tumpukan buku-buku di perpustakaanpribadinya, terguling dan menghimpitnya dia dan menyebabkan kematiannya. Ia meninggal pada usia 93. Versi lain mengatakan bahwa ia menderita sakit dan meninggal pada bulan Muharram (Al-Jahiz: INTRODUCTION." Classical and Medieval Literature Criticism .Ed. Daniel G. Marowski. Vol. 25. Gale Group, Inc., 1998. eNotes.com. 2006. 13 Sep, 2007)

Ref: Biografi Ilmuwan Muslim

Ilmuwan Muslim, Ad-Damiri

Biografi Ad-Damiri (Fuqaha Serta Penulis Ensiklopedi Zoologi)

Kamaluddin Ad-Damiri adalah seorang sastrawan dan ahli fikih beraliran madzhab Syafi'i di Mesir. Dia juga seorang pemerhati hewan sehingga dia mengumpulkan informasi-informasi tentang berbagai hewan yang ada pada masanya. Dia telah berhasil menulis sebuah buku yang berjudul "Hayat AlHayawan."

Dia adalah Abu Al-Baqa` Kamaluddin Muhammad bin Musa bin Isa bin Ali. Dia biasa dipanggil dengan nama Ad-Damiri, karena keluarganya berasal dari desa Damirah, salah satu pedesaan di Mesir. Dilahirkan di kota Kairo pada tahun 742 H (1341 M). Pada awalnya dia berprofesi sebagai tukang jahit, namun karena kegemarannya terhadap ilmu dan bersabar dalam menuntutnya dia menjadi seorang ulama yang berhak mengeluarkan fatwa dan mengajar di kota Cairo. Dia kemudian pindah dari kota Cairo ke kota Makkah untuk mengajar di sana, hingga akhirnya dia kembali lagi ke Cairo. Ia hidup sezaman dengan al maqrizi, dan ia sangat mengagumi ketinggian ilmu Ad damiri.

Selain mendalami ilmu hukum (fiqih), ia juga mendalami hadits, tafsir, filologi, dan ilmu hewan. Diantara guru-gurunya antara lain: Jamaluddin al asnawi, Ibn Akil (komentator terkenal Alfiyah Ibn malik), Burhanuddin al Kirati , dan lain-lain.

Ia kemudian mengajar di beberapa pusat pendidikan: Al Azhar, Jami’ al zahir, Madrasah Ibn bakari dan lain-lain. Ia juga aktif menjadi anggota masyarakat sufi di Khanqah salahiyah.

Ia terkenal seorang yang soleh, sejak muda selalu berpuasa. Ia menunaikan ibadah haji selama 6 kali antara tahun 762-799 H. Di Mekah dan Madinah, ia belajar, mengajar dan memberi fatwa, Dan setelah itu menetap di kairo.

Ad-Damiri belajar ilmu bahasa, fikih, hadits, dan sastra di Universitas Al-Azhar. Dia belajar kepada dosen-dosen senior yang terdapat di universitas tersebut, di antaranya Syaikh Bahauddin As-Subki, Syaikh Ja-maluddin Al-Isnawi, Al-Kamal Abu Al-Fadhl An-Nuwairi, Ibnu Al-Mulqin, Al-Bulqini, Burhan Al-Qairathi, Al-Baha Aqil, dan lainnya. Ketika dia sudah berhasil meraih gelar ustadz (profesor) dan guru-gurunya mengakui keilmuannya, dia diizinkan untuk mengajar di Universitas Al-Azhar. Dia memberikan pengajian kepada murid-muridnya pada hari Sabtu. Dia juga mengajarkan ilmu hadits di Qubah Al-Baibarsiyah. Sedangkan di Madrasah Ibnu Al-Baqari yang berada di Bab An-Nashr, dia mengajar pada hari Jumat. Setelah selesai shalat Jumat, dia menyampaikan pengajian di Masjid Azh-Zhahir yang berada di daerah Husein, Mesir.

Di antara orang yang pernah belajar kepada Kamaluddin Ad-Damiri adalah Al-Allamah Taqiuddin Al-Farisi, seorang ahli hadits dan sejarawan, serta Syaikh Syihabuddin Abu Abbas Al-Aqfahasi, seorang ahli fikih beraliran madzhab Syafi'i.

Seorang sejarawan, Taqiyuddin Al-Maqrizi, menyebutkan bahwa dia telah berteman dengan Ad-Damiri beberapa tahun lamanya. Karena kekagumannya kepada Ad-Damiri dia selalu menghadiri pengajiannya. Di antara murid Ad-Damiri adalah putrinya yang bernama Ummu Habibah, yang mendapat pengakuan dari beberapa syaikh pada saat itu.

Ad-Damiri adalah seorang yang taat beribadah dan berakhlak mulia. Pada dirinya telah menyatu keindahan postur tubuh dan kebaikan prilakunya. Dia pandai bergaul serta santun dalam berbicara. Dia dikenal sebagai seorang khatib yang pandai menyampaikan pesan dengan santun dan mudah dipahami.

Karyanya
Nama ad-Damiri dikenal lewat karyanya yang berjudul Hayat al-Hayawan al-Kubra, sebuah ensiklopedi zoologi. Buku ini adalah buku ilmu hewan terbaik sepanjang masa itu. Di kemudian hari, Hayat al-Hayawan al-Kubra diterjemahkan dalam bahasa Inggris & diterbitkan dalam 2 jilid (London, 1906-1908).

Buku "Hayat Al-Hayawan" mulai ditulis oleh Ad-Damiri pada tahun 773 H (1271 M). Pada saat itu, dia masih berumur tidak lebih dari 31 tahun. Ini tentunya merupakan usia yang masih terbilang muda untuk menulis ensiklopedi besar yang dapat mengumpulkan berbagai informasi dari beberapa disiplin ilmu. Ad-Damiri menyebutkan bahwa dia telah mengumpulkan bahan tulisannya dari 560 buku disamping peninjauannya kepada 199 kumpulan syair. Dengan demikian, buku ini merupakan referensi besar yang masih jarang ditulis oleh para ilmuwan dalam bidangnya.

Menurut al-Damiri, ia menulis buku tersebut bukan sekedar merangkum ilmu zoologi Arab, melainkan menjadikannya lumbung cerita rakyat Muslim. Selain itu, sebagai penulis, ia tidak membatasi diri pada aspek zoologi semata, tapi juga berusaha menulis semua hal yang menyangkut hewan. Pada tahun 1371-1372, karya tersebut dilengkapi lagi daftarnya oleh sang penulis.Hayat aL-Hayawan al-Kubradisusun menurut abjad. Secara garis besar. Isinya sebagai berikut :

    Aspek fisiologi nama-nama hewan;
    Deskripsi hewan, sifat, & kebiasaan;
    Sebutan hewan sesuai hadist;
    Keabsahannya sebagai makanan manusia menurut hukum & perbedaan mahzab;
    Peribahasa & cerita rakyat yang berhubungan dengan hewan;
    Pengobatan menggunakan hewan;
    Hubungan hewan dengan mimpi, termasuk takwilnya.

Namun yang paling dominan & menonjol dalam buku Hayat al-Hayawan al-Kubra adalah pembahasan tentang para khalifah, yang menempati sekitar 1/3 bagian dari seluruh isi buku. Buku ini berisi 1.068 artikel. Meskipun demikian, artikel tersebut hanya sedikit membahas jenis hewan, baik yang riil maupun imajiner. Misalnya, Buraq & sebagainya. Yang sering terjadi adalah satu jenis hewan dikelompokan dengan nama yang berbeda.

Sebagai seorang penulis non profesional, ad-Damiri sering kali menyajikan hal-hal yang bersifat takhayul. Menurut J. De Somogyi, seorang penulis teliti. Ad-Damiri tampaknya hanya sekedar menyalin & menyusun ulang pengetahuan tradisional berdasarkan ratusan sumber yang telah dianalisa & dipikirannya.

Ada 3 resensi yang membahas buku Hayat al-Hayawan al-Kubra. Ketiga resensi tersebut ada yang panjang, cukup pendek, & ringkas. Pada resensi yang panjang terdapat sekitar 13 cetakan tentang Asia & sejumlah penyingkatan serta penyesuaian.

Untuk menulis bahasa dan nama-nama hewan, dia merujuk kepada buku karya Al-Jauhari dan Ibnu Sayyidih. Kemudian untuk menulis tentang tabiat hewan dan bentuknya serta keistimewan organ tubuhnya yang berhubungan dengan kedokteran atau lainnya, dia merujuk kepada buku karangan Al-Jahizh, Qazmini, Pliny the Elder, Ibnu Sina, Aristoteles, Hunain bin Ishak, Ibnu Balhtisyu', Ibnu Rusyd, dan Abdul Lathif Al-Baghdadi.

Dalam menulis buku fikih, dia merujuk kepada buku-buku yang dikarang oleh empat imam madzhab yang Empat. Sedangkan dalam menulis buku hadits, dia merujuk kepada karya Imam Bukhari, Muslim, Abu Dawud, An-Nasai dan At-Tirmidzi. Adapun untuk membuat perumpamaan dalam bukunya, dia merujuk kepada buku "Majma'ul Amtsal" karya Al Maidani. Kemudian untuk menulis tafsir mimpi, dia merujuk kepada buku "Muntakhubul Kalam Fi Tafsir Al-Ahlam," karya Ibnu Sirin Al Anshari dan kepada karya Artho-medurs.

Buku "Hayat Al-Hayawan" terdiri dari dua juz. Dalam buku ini, Ad-Damiri berbicara tentang setiap hewan secara rinci satu persatu. Nama-nama hewan disusun berdasarkan abjad agar para pembaca merasa mudah mendapatkan informasi yang dicarinya.

Buku ini terdiri dari 1069 materi, akan tetapi jumlah hewan yang disebutkannya kurang dari jumlah ini, karena banyak di antara hewan yang mempunyai beberapa nama. Oleh karena itu, satu jenis hewan di dalam buku ini dibicarakan sesuai dengan namanya yang berbeda-beda. Biasanya ketika kita ingin mengetahui lebih banyak tentang hewan ini, kita akan disarankan untuk melihat kembali di salah satu dari nama hewan itu. Seorang orientalis bernama Steinfield menyebutkan bahwa buku "Hayat Al-Hayawan" membicarakan sebanyak 731 macam hewan.

Ad-Damiri membahas tentang setiap hewan dengan memulai menyebutkan nama-namanya dari segi bahasa, pengucapan, makna, bentuk jamaknya, dan lain sebagainya. Setelah itu, dia menjelaskan tentang jenis hewan itu, ekosistemnya, karakternya, dan anatomi tubuhnya. Adakalanya dia menyebutkan ini semua secara bersamaan, atau cukup dengan menyebutkan sebagiannya saja sesuai dengan jenis hewannya dan referensi yang ada. Adakalanya dia juga menyebutkannya secara berurutan sebagaimana yang kami sebutkan dan adakalanya tidak berurutan sesuai dengan keadaannya. Selain dari itu, Ad-Damiri juga memberikan tambahan pengetahuan biologi tentang hewan itu yang berasal dari buku-buku besar, seperti; buku-buku syair, sastra, cerita, dan kisah lucu dengan tetap menyatukan manfaatnya secara ilmiah dan sastra sehingga enak didengar dan dapat menghibur pembaca.

Kalau kita perhatikan, Ad-Damiri juga menyebutkan di dalam bukunya tentang hukum setiap hewan ber-dasarkan syariat Islam, apakah halal atau haram dimakan, terutama yang berhubungan dengan daging, susu, telur, dan penggunaan sebagian anggota badannya, seperti; bulu, rambut, dan kulitnya. Contohnya adalah sebagai berikut:

Hukum memakan daging kura-kura darat yang terdapat dalam materi "kura-kura darat." Menurut Al-Baghawi, ulama berbeda pendapat, yaitu; Ar-Rafi'i mengharamkannya karena hewan itu menjijikkan, dan kebanyakan makanannya adalah ular. Sedangkan Ibnu Hazm berpendapat bahwa kura¬kura yang hidup di darat maupun dilaut halal dimakan daging¬nya. Demikian juga dengan telurnya. Sebab Allah Subhanahu Wa n Ta'ala berfirman,

"Makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi." (Al-Baqarah: 168). Allah Subhanahu Wa Ta'ala juga berfirman,

"Padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu," (Al-An'am: 119). Menurut ayat ini jelas bahwa Allah tidak menyebutkan diharamkannya kura-kura sehingga hukumnya halal untuk dimakan.

Hukum meminum susu kuda yang terdapat dalam materi "kuda." Yaitu kuda yang disetubuhi oleh keledai, lalu dia hamil. Susu pada kuda betina sejenis ini hukumnya halal diminum dan bersih. Keledai yang menyetubuhinya tidak mempengaruhi susunya, karena susu kuda berasal dari makanannya dan hukumnya seperti dagingnya. Jadi air sperma keledai tidak berpengaruh kecuali kepada anak yang dilahirkan oleh kuda betina itu, yang berasal dari perpaduan dari keduanya, sehingga anaknya haram untuk dimakan. Sedangkan susu tidak terbentuk dari hasil hubungan seksualnya, melainkan dari makanannya, sehingga ia tidak haram untuk diminum.

Kita juga memperhatikan Ad-Damiri sangat memperhatikan tafsir mimpi yang berhubungan dengan berbagai jenis hewan dan menjadi bahan diskusi setiap kali memungkinkan untuk didiskusikan. Misalnya, tentang tafsir mimpi yang ada di dalam bukunya, yaitu sebagai berikut:

Tafsir mimpi yang ada pada materi "Semut." Semut yang terlihat dalam mimpi menunjukkan orang-orang lemah yang tekun. Semut juga menunjukkan tentara, keluarga, dan kehidupan. Apabila ada orang yang bermimpi melihat semut masuk ke suatu desa atau kota, berarti ada tentara yang datang. Orang yang bermimpi mendengar perkataan semut, is akan mendapatkan rezki dan kebaikan. Orang yang bermimpi melihat semut di tempat tidurnya, dia akan banyak anaknya. Orang yang bermimpi melihat semut keluar dari rumahnya berarti akan ada salah satu dari keluarganya yang berkurang. Orang yang melihat semut terbang dari suatu tempat yang di dalamnya terdapat orang sakit, pertanda orang yang sakit akan mati, atau pergi jauh dan dia mendapat bencana. Semut menunjukkan pada kesuburan dan rezki, karena is tidak berada di suatu tempat kecuali jelas rezkinya. Apabila orang yang sakit bermimpi seakan-akan ada semut yang merayap di badannya, maka dia akan mati, karena semut adalah hewan tanah yang dingin.

Gamasab mengatakan, "Orang yang melihat semut keluar dari tempatnya, pertanda dia akan mendapatkan kesusahan. Wallahu a'lam. Perkataan "wallahu a'lam" ini menunjukkan bahwa ada kemungkinan lain yang terjadi selain yang telah disebutkan.

Tafsir yang dinyatakan dalam materi "musang." Musang dalam mimpi menunjukkan pada seseorang yang suka mengingkari janji dan pendusta. Orang suka memeras orang lain, dia juga akan diperas.

Dalam buku itu juga Ad-Damiri bercerita tentang karakter hewan dan menyusunnya dengan baik sehingga dapat dinikmati oleh para pembaca. Salah satu contohnya adalah dua kisah menarik berikut ini tentang karakter anjing:

Kisah pertama; Al-Harits bin Sha'sha'ah memiliki banyak kawan yang tidak pernah berpisah dengan mereka. Dia sangat menyayangi mereka. Pada suatu hari dia pergi piknik bersama teman-temannya. Ternyata salah satu dari mereka tertinggal. Dia datang kepada istrinya, makan, minum, dan berbaring. Tiba¬tiba ada anjing yang menerkam keduanya sehingga keduanya mati. Ketika Al-Harits pulang ke rumahnya, dia mendapatkan keduanya telah mati. Dia mengetahui hal ini dan berkata:

"Dia masih menjaga janjiku dan memperhatikan kedudukanku, akan tetapi kawan itu berkhianat."

"Anehnya kawan itu merusak kehormatanku, dan anehnya anjing itu yang melindunginya."

- Kisah kedua; Ad-Damiri mengatakan:

"Dinyatakan dalam buku "An-Nisywan" dari Abu Utsman Al-Madini, dia berkata, "Di Baghdad ada seorang laki-laki yang bermain dengan anjing. Pada suatu hari, dia keluar untuk suatu keperluan dan anjingnya mengikutinya. Dia tidak ingin anjing itu ikut bersamanya. Karena itu, dia menyuruh anjing itu pulang ke rumah, akan tetapi anjing itu tidak pulang. Dia pun membiarkannya. Dia terus berjalan hingga akhirnya tiba di suatu tempat di mana musuhnya berada. Tanpa membuat perhitungan, mereka (para musuhnya) langsung me-nangkapnya. Sedangkan anjing itu melihat mereka. Mereka memaksa laki-laki itu masuk ke sebuah rumah dan si anjing pun ikut masuk ke dalamnya. Mereka lalu membunuh laki-laki itu dan melemparkannya ke dalam sumur. Sementara anjing itu mereka pukul dan mereka usir, hingga dia kembali pulang ke rumah pemiliknya. Anjing itu menyalak akan tetapi mereka tidak menghiraukannya.

Ibu laki-laki itu barulah merasa kehilangan anaknya. Dia sudah mulai gelisah dan mengusir anjing itu keluar dari pintu, akan tetapi is tetap tidak mau keluar. Pada suatu hari, pembunuh itu datang dan berdiam di depan pintu rumah tuannya. Ketika melihatnya, ia langsung melompat dan menerkam lengannya, menariknya, dan bergelantungan padanya. Orang-orang berusaha me-nolongnya dari gigitan anjing itu. Namun usaha mereka sia-sia. Si anjing tetap saja menyalak dan menggigit. Tiba-tiba datang seorang satpam dan ia berkata, "Tidak mungkin anjing ini meronta-ronta kepada orang ini, kecuali memang memiliki suatu peristiwa. Barangkali dia telah melukai tuannya."

Ibu laki-laki yang terbunuh itu datang mendengar percakapan ini. Ketika dia melihat si anjing meronta kepada laki-laki itu, dia berpikir dan mengingat-ngingat, ternyata laki-laki itu memang salah seorang dari musuh anaknya. Dia lalu berprasangkan bahwa laki-laki itulah yang membunuh anaknya, sehingga anjing itu meronta-ronta padanya. Laki-laki dan anjing itu kemudian dibawa ke hadapan Amirul Mukminin Ar-Radhi Billah dengan tuduhan telah membunuh anaknya. Sang Khalifah lalu memerintahkan untuk memenjarakan laki-laki itu, sementara si anjing berdiam di depan pintu penjara.

Beberapa hari kemudian, Sang Khalifah memerintahkan untuk melepaskan laki-laki itu. Begitu dia keluar, anjing langsung meronta-ronta lagi seperti sebelumnya. Orang-orang kaget dan berusaha menolongnya. Mereka hampir saja tidak mampu, kecuali setelah berusaha mati-matian. Sang Khalifah kemudian memerintahkan pengawalnya untuk melepaskan laki-laki itu pulang dan membiarkan si anjing mengikutinya. Ketika laki-laki itu masuk rumahnya, anjing itu pun ikut masuk ke rumahnya. Pengawal kembali ke istana dan memberitahukan kepada Sang Khalifah apa yang telah terjadi.

Dia lalu mengutus beberapa orang penyidik. Ketika laki-laki itu masuk ke dalam rumahnya, penyidik beserta anjing itu pun ikut masuk. Mereka memeriksa rumah, akan tetapi tidak mendapatkan tanda-tanda yang mencurigakan. Sedangkan si anjing tetap saja menyalak dan menunjukkan letak sumur itu berada karena korban telah dibunuh dan dilempar ke dalamnya. Para penyidik itu merasa kaget. Dia memberitahukan kepada Sang Khalifah apa yang telah dilakukan anjing itu. Dia memerintahkan untuk menggali sumur. Ternyata mereka mendapatkan mayat laki-laki yang dibunuh itu. Hukum qishash pun ditegakkan kepada si pembunuh. Sementara tersangka lain, kabur karena ketakukan."

Banyak kita jumpai Ad-Damiri secara spontan menyajikan kepada kita kisah atau pengetahuan yang keluar dari konteks dan ditulis dengan judul "catatan." Seolah-olah kita telah terbawa dengan kisah itu, sehingga dia perlu menjelaskannya di dalam bukunya, sekalipun memang tampak aneh dan keluar dari konteks dan judul buku itu. Misalnya, seperti yang dia tulis dalam materi "ayam hutan." Dia mengatakan sebagai berikut:

"Catatan: Dinyatakan dalam buku "An-Nisywan" dan "Tarikh Ibn An-Najjar," dari Abu Anshar Muhammad bin Marwan Al-Ja'di, bahwa dia makan bersama sebagian pemuka suku Kurdi di atas sebuah pining besar yang di dalamnya terdapat dua ayam hutan yang dipanggang. Orang suku Kurdi itu mengambil satu ayam dengan tangannya, lalu dia tertawa. Ibnu Marwan kemudian bertanya tentang hal itu. Dia menjawab, "Saya merampok pedagang di masa muda saya. Ketika saya ingin mem-bunuhnya, dia merendahkan diri kepada saya, akan tetapi saya tidak menerimanya dan tidak memperdulikannya. Ketika dia melihat saya serius mau membunuhnya, saya menoleh kepada dua ayam hutan yang terjerat tali. Dia berkata,

'Bersaksilah kepadaku bahwa dia telah membunuhku secara zhalim.' Maka saya pun mem-bunuhnya. Ketika saya melihat dua ekor ayam hutan ini, saya teringat kebodohannya ketika dia minta supaya dua ekor ayam itu menjadi saksi. Ketika Ibnu Marwan mendengar hal itu, dia berkata, "Kedua ayam hutan itu telah menjadi saksi, demi Allah kamu harus diqishash karena membunuh orang itu." Dia lalu memerintahkan untuk memukul tengkuknya.

Ini merupakan peristiwa yang benar-benar lucu, karena di dalamnya terdapat nasihat sesuai dengan firman AllahSubhanahu Wa Ta'ala,

"Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi." (Al-Fajr: 14).

Jadi, di sini Ad-Damiri telah menulis sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan hewan sebagai objek pembahasan. Karena itu, dia menulis dengan sub judul "catatan asing" sebagai tanda bahwa itu keluar dari judul. Kadang-kadang catatan asing ini hanya sebatas beberapa baris kalimat saja, akan tetapi kadang-kadang ditulis sangat panjang, sebagaimana catatan asing yang ditulis pada materi "angsa." Penulisan yang panjang ini dimak¬sudkan oleh Ad-Damiri sebagai bukti atas kebenaran apa yang dikatakan oleh sejarawan bahwa "Setiap orang keenam yang mengurus urusan umat, dia akan digulingkan." Maka dia pun memaparkan tentang sejarah negara Islam sejak didirikan oleh Rasulullah Sallahu Alaihi Wa Sallam, hingga kendali pemerintahan dipegang oleh Bani Utsman. Pemaparan ini memakan sebanyak 85 halaman dari buku yang dicetak oleh "Kitab Al-Jumhuriyyah."

Secara otomatis, buku yang dikenal sebagai ensiklopedia seperti buku "Hayat Al-Hayawan" ini juga berisi tentang ilmu, sastra, dan kisah-kisah serta ditulis pada abad keempat Hijriyah, tentu masih memuat banyak kisah-kisah yang berbau khurafat (tahayyul). Pada kenyataannya ini bukan suatu aib yang besar, apabila kita memperhatikan menyebar luasnya tahayyul dalam banyak karangan yang seperti ini. Demikian juga di semua peradaban yang dikenal seperti Eropa pada masa sebelum kebangkitan. Bahkan ketika telah memasuki masa kebangkitan sekalipun, buku-buku yang memuat kisah tahayyul itu masih banyak beredar. Di antara kisah-kisah tahayyul dalam buku ini adalah sebagai berikut:

- Ad-Damiri mengatakan dalam materi "kelinci," "Apabila wanita meminum bekas air minum kelinci jantan, dia akan melahirkan anak laki-laki. Apabila dia meminum bekas air kelinci betina, dia akan melahirkan anak perempuan. Apabila kotorannya diletakkan kepada wanita, dia tidak akan hamil selama masih lengket padanya."

- Dia juga mengatakan dalam materi "jerapah" tentang asal hewan ini, "Dia dilahirkan dari tiga jenis hewan, yaitu; unta liar, sapi liar, dan srigala liar. Srigala jantan menyetubuhi unta betina dan is melahirkan anak antara srigala dan unta. Apabila anaknya laki-laki dan ia menyetubuhi sapi betina, maka akan lahir jerapah. Dan hewan ini asalnya dari negeri Ethiopia, dan karena itu diberi nama Jerapah, yang berarti hasil bersama. Dan, ketika ia dilahirkan dari sekelompok hewan, maka ia dinamai seperti itu. Orang selain Arab menyebutnya "ester kawilnik", karena ester artinya unta, ka artinya sapi betina, dan wilnik artinya srigala jantan."

Kita perhatikan bahwa Ad-Damiri menggunakan bahasa sebagai dalil untuk memperkuat pendapatnya secara ilmiah, sekalipun kenyataannya itu tidak benar. Karena Jerapah adalah satu jenis hewan yang ada sendiri. Ia juga terdiri dari jantan dan betina, dan dilahirkan dari hasil perkawinan antara keduanya. Adapun namanya yang ilmiah, jerapah seperti ini disebut "Giraffa Camelopardalis."

- Dia juga mengatakan dalam materi "kutu," "Apabila Anda ingin mengetahui apakah wanita ini mengandung anak laki-laki atau perempuan, maka ambillah kutu dari rambutnya, lalu perahlah susu wanita itu dan diletakkan di telapak tangan seseorang. Apabila kutu itu keluar dari susu, maka ia mengandung anak perempuan. Sedangkan apabila kutu itu tidak keluar dari susu, maka ia mengandung anak laki-laki."

Buku "Hayat Al-Hayawan" tanpa diragukan lagi, memiliki beberapa keistimewaan yang jelas. Secara global keistimewaan itu adalah sebagai berikut:

- Buku ini terdiri dari hasil pemantauan yang akurat mengenai karakter berbagai jenis hewan, pola hidupnya, dan prilakunya dalam berbagai suasana. Dalam aspek ini, dia berpedoman kepada buku-buku lain yang membahas tentang hewan, seperti buku "Al-Hayawan" karangan Al-Jahizh, dan buku "Aja'ib Al-Makhluqat"karangan Al-Qazwaini. Sedangkan sebagiannya lagi tampak berasal dari pengalaman pribadi Ad-Darimi sendiri, seperti catatan berikut ini tentang perkawinan yang kami kutip dari materi "Burung Merak."

"Burung merak betina dapat bertelur setelah berusia tiga tahun. Pada saat itu juga, bulu pada burung merak jantan menj adi sempurna dan lengkap warnanya. Burung merak betina bertelur satu kali dalam setahun, dengan jumlah telur kurang lebih dua belas butir. Burung merak tidak terus-terusan bertelur. Apabila datang musim semi, telur bisa rusak. Dia merontokkan bulu-bulunya pada musim gugur, sebagaimana pohon merontokkan daun-daunnya. Bulu-bulu ini akan tumbuh kembali seiring dengan tumbuhnya daun-daun di pohon.

Burung merak jantan banyak menyia-nyiakan burung merak betina apabila sedang mengerami. Kadang-kadang ia mau merusak telur-telur itu. Untuk itulah, apabila ingin selamat, telur-telurnya dieramkan ke ayam. Akan tetapi ayam tidak dapat mengerami lebih dari dua telur burung merak. Perlu diperhatikan, bahwa pada saat mengerami, keperluan ayam harus selalu terpenuhi, seperti makan dan minumnya, sehingga dia tidak bangkit dari pengeramannya dan berakibat pada rusaknya telur itu karena terkena udara. Anak burung yang menetas dierami oleh ayam, biasanya kurang bagus, prilakunya sedikit berbeda dan bentuk badannya juga tidak ideal. Masa pengeramannya memakan waktu selama tiga puluh hari. Ia akan menetas dari telurnya, seperti jenis unggas lainnya, tidak berbulu dan langsung mendapatkan makan dari induk yang mengeraminya."

Demikian juga dengan pernyataannya yang menunjukkan pada jauhnya pandangan Ad-Damiri dapat kita temukan pada materi "unta." Dia mengatakan, "Unta merupakan hewan yang langka, sekalipun kelangkaannya tidak terlalu diperhatikan oleh manusia karena terlalu sering dilihat." Pendapat Ad-Damiri ini memang benar. Unta dikenal sebagai kendaraan padang pasir dan termasuk di antara mukjizat Allah yang ada di alam ini. Unta mampu mengendalikan beban dalam keadaan apapun, baik dalam keadaan cuaca buruk, lapar, maupun haus, yang tidak mampu dikendalikan oleh hewan lainnya.

- Sekalipun Ad-Damiri banyak menulis tentang berbagai tahayyul, namun ia juga banyak menepis tahayyul-tahayyul yang banyak beredar di kalangan masyarakat. Hal ini sebagaimana kita ketahui dari perkataannya dalam materi "kadal."

"Dinyatakan dalam buku "Raf’u At-Tamwih Fima Yuraddu Alat At-Tanbiih" yang kesimpulannya bahwa kadal adalah anak buaya. Dia mengatakan, "Buaya bertelur di darat. Apabila anaknya telah menetas, sebagiannya ada yang turun ke sungai dan sebagian tetap bertahan di darat. Anaknya yang turun ke sungai menjadi buaya dan yang menetap di darat menjadi kadal. Dia menambahkan, "Karena itu hukum halal dan haram ada dua pendapat seperti halnya buaya. Perkataan ini tidak saya yakini kebenarannya. Karena kadal tidak memiliki karakter seperti buaya, karena kulitnya juga berbeda dengan kulit buaya, yaitu tidak berlemak. Di samping itu, kalau kadal berasal dari buaya niscaya ketika besar ia akan seperti buaya besarnya. Sedangkan kadal ukurannya tidak lebih dari sejengkal atau setengah depa. Sedangkan buaya besarnya mencapai hingga sepuluh depa atau lebih."

Sama seperti perkataannya tentang kelinci, "Ada yang mengatakan bahwa apabila kelinci melihat laut, ia akan mati. Karena itu, kelinci tidak tinggal di tepi pantai. Menurut saya, perkataan ini tidak benar."

- Buku ini berisi kumpulan dan nama-nama berbagai jenis hewan. Buku ini dapat dijadikan sebagai bekal yang besar bagi para spesialis untuk menulis tentang ilmu hewan (taxonomi). Demikian juga bagi para penerjemah. Nama-nama ini diurut dari nama-nama yang umum ke nama-nama khusus yang diberikan kepada hewan ketika masih kecil, jantan, dan betina. Hal ini dapat kita lihat pada contoh berikut ini:

Ar-Rihdaun : Unggas.

As-Samaithar : Burung air yang lehernya sangat panjang.

Al-Laja' : Sejenis kura-kura darat dan Taut.

Adz-Dzar : Semut merah yang kecil. Dzarrah adalah kata tunggalnya.

As-Sulfan : Anak ayam hutan (unggas), dan salaf adalah kata tunggalnya.

Ar-Ra'lu : Anak binatang ternak. Untuk yang betina disebut ra'latun. Jamaknya ri'aldan ri'lan.

Al-Janbar : Anak sotong.

Al-Hasal : Anak buaya. Jamaknya adalah ahsaal, hasuul, haslaan, dan haslah.

Al-Fayyad : Burung hantu jantan.

Al-Habraj : Sotong jantan.

Al-Bukhaq : Srigala jantan.

As-Sandawah : Srigala betina.

Al-Laqwah : Burung heriang betina.

Ats-Tsarmilah : Rubah betina.

Ad-Damiri menyusun bukunya "Hayat Al-Hawayan" dan menerbitkan dalam dua versi cetakan. Yaitu besar dan kecil. Buku "Hayat Al-Hawayan" yang besar lebih banyak dicetak dan diterbitkan. Sedangkan versi cetakan yang kecil, Ad-Damiri membuang pemaparan tentang sejarah negara Islam dalam materi "angsa." Setelah wafatnya Ad-Damiri, buku ini banyak diringkas oleh beberapa ulama. Misalnya ringkasan yang disusun oleh Ad-Damamini, Umar bin Yusuf Al-Hanafi, Taqiyuddin Al-Fasi, Al-Qari, dan As-Suyuthi. Di samping juga dijadikan lampiran dalam buku yang ditulis oleh Jamaluddin Al-Makki.

Untuk menyajikan isi buku ini secara lengkap kepada pembaca, kami lanjutkan pada materi berikutnya dan kami memilih materi "Gagak."

Gagak tak ubahnya seperti rubah. Dia bersuara yang hampir mirip dengan namanya "kak..kak..," yaitu burung yang besarnya seperti burung merpati. Akan tetapi bentuknya mirip burung elang. Sayapnya lebih lebar dari pada saya burung merpati. Dia memiliki dua warna pada bulunya; putih dan hitam, dan ekornya panjang.

Dia hampir tidak pernah berteduh di bawah atap atau bertengker di atasnya, melainkan selalu menantang angin di tempat terbuka. Karakternya suka memperkosa dan berkhianat. Dia memiliki prilaku suka mencuri dan merampas. Orang Arab banyak yang menjadikan gagak sebagai suatu perumpamaan.

Apabila ada burung yang bertelur, ia menyembunyikan telurnya karena takut diganggu oleh burung gagak. Sebab apabila ia mendekati telur, ia pasti akan merusaknya.

Az-Zamakhsyari dan lainnya mengisahkan tentang tafsir firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala,

"Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezki kepadanya." (Al-Ankabut: 60). Diriwayatkan dari Suyfan bin Uyainah, dia berkata, Tidak termasuk dari golongan hewan apabila menyembunyikan makanannya, kecuali manusia, semut, tikus, dan gagak. Mereka juga mengatakan, "Saya melihat burung gelatik mengejek gagak." Ada yang mengatakan bahwa burung gagak memiliki tempat persembunyian, akan tetapi ia sering melupakannya. Di antara karakter burung gagak juga adalah suka menteror. Alangkah banyak barang berharga yang dirampasnya dari kanan dan kiri, hingga seorang penyair berkata:

"Allah memberikan berkah kepada burung, tetapi tidak kepada burung gagak.

Paruhnya pendek dan sayapnya panjang. Apabila melihat kelengahan, ia langsung mencuri.

Dia mempermainkan matanya di kepalanya, seolah-olah keduanya tetesan air raksa."

Catatan: Banyak orang yang berbeda pendapat mengapa burung ini diberi nama gagak ('Aq'aq). Al-Jahizh mengatakan, "Karena ia selalu durhaka kepada anakanya dan membiarkannya tanpa diberi makan. Dari sini dapat diketahui bahwa dia sejenis dengan burung elang, karena semua melakukan itu."

Hukumnya: Tentang halal dan tidaknya, ada dua pendapat. Pertama, halal dimakan seperti burung elang yang hidup di ladang. Kedua, haram dimakan. Pendapat kedua inilah yang benar dalam buku "Ar-Raudhah" sesuai dengan pendapat Al-Baghawi dan Al-Busanji. Ketika imam Ahmad ditanya tentang gagak, dia menjawab, "Kalau tidak memakan kotoran, tidap apa-apa." Sebagian sahabatnya berkata, "Ia juga memakan kotoran." Maka dia pun menghukuminya haram untuk dimakan.

Catatan: Al-Jauhari meriwayatkan bahwa orang Arab merasa pesimis dengan burung gagak dan suaranya. Karena mereka meyakini bahwa burung gagak telah melihat dari udara apa yang terjadi. Apabila mereka mendengar suara gagak, mereka takut terjadi sesuatu. Ar-Rifa'i mengisahkan dari mazhab Hanafi tentang orang yang keluar dari rumah untuk bepergian, lalu ketika mendengar suara burung gagak dia kembali, apakah dikatakan kafir atau tidak? Ada yang mengatakan bahwa dia telah kafir. Demikian juga yang saya lihat dalam buku "Fatawa Qadhi Khan." Imam An-Nawawi mengatakan, "Menurut kami, dia tidak dihukumi kafir."

Pepatah: Mereka mengatakan, "Adakah yang lebih pencuri dari burung gagak? Adakah yang lebih bodoh dari burung gagak? Sebab ia seperti burung unta yang selalu menyia-nyiakan telur dan anaknya, lalu sibuk dengan telur burung lain."

Keistimewaan: Apabila otak burung diletakkan di kapas, lalu ditempelkan di tempat terkena panah atau peluru yang menancap di badan, maka ia akan mengeluarkan keduanya dengan mudah. Dagingnya panas, kering, dan tidak enak.

Ungkapan: Apabila bermimpi melihat burung gagak, dia akan bertemu orang yang tidak amanah dan tidak menepati janji. Apabila dia bermimpi diajak bicara oleh burung gagak, berarti akan datang kabar dari jauh. Burung gagak merupakan simbol dari orang yang monopoli dan suka menguasai.

Komentar Tentang Ad-Damiri
- Seorang orientalis bernama Jacquard mengatakan, "Buku "Haya Al-Hawayan" karangan Ad-Damiri telah menjadi sumber kata mutiara Islam dan Arab. Di dalamnya banyak ditulis tentang kaedah fikih, hukum, hadis, sastra, dan pepatah,

yang semuanya bersumber dari berbagai macam referensi, lalu semua berkumpul di satu sumber sebagai rujukan bagi pembaca di dunia Arab. Karya ini tentu menunjukkan pada pengua¬saannya terhadap masalah agama dan dunianya."

- Orientalis Leclere mengatakan, "Apabila dibuang dari buku Ad-Damiri ini tulisan yang mengandung tahayyul-tahayyul dan kisah-kisah serta biografi sebagian tokoh, niscaya buku ini dianggap sebagai buku yang sangat bernilai yang mengupas tentang sejarah hewan."

- Editor pengantar buku "Hayat Al-Hawayan" dalam cetakan versi penerbit "Kitab Al-Jumhuriyyah"mengatakan, "Tidak dapat diragukan lagi bahwa buku "Hayat Al-Hawayan" karangan Ad-Damiri telah dikenal di Eropa sejak lama, terutama oleh para mahasiswa jurusan bahasa Arab di universitas-universitas Eropa dan lainnya. Bahkan buku ini dianggap sebagai buku yang sangat bernilai. Buku ini juga memiliki peranan penting bagi kebudayaan Barat. Misalnya ilmuwan, Lin dalam "Ensiklopedi Arabnya" yang terkenal itu banyak mengutip dari buku Ad-Damiri ini. Demikian juga dengan Stanvold. Sebagaimana buku ini juga dijadikan rujukan utama oleh Bucart dalam bukunya yang bei judul "Herozicon". Buku ini juga dimanfaatkan oleh ilmuwan, Hazl, dan mengutip sebagian isinya pada materi "belalang," dari manuskripnya yang ada di Kopenhagen.

Selain itu, masih banyak diantara para ilmuwan dan penulis Eropa yang menggunakan buku "Hayat Al-Hayawan" sebagai rujukan, seperti Karmer, Homel, Taksin, Bram yang berkebangsaan Jerman, dan lainnya.

Ad-Damiri meninggal dunia pada tahun 1405(808 H) di Kairo, Mesir.

Ref: Biografi Ilmuwan Muslim

Ilmuwan Muslim, Rasyiduddin As-Suwari

Biografi Rasyiduddin As-Suwari (Ahli Agronomi, Botani, & Dokter)

Berbicara mengenai peradaban Islam dan zaman keemasannya, maka yang teringat pertama kali adalah Baghdad yang menjadi pusat pemerintahan Daulah Abbasiyah dan dijadikan sebagai pusat ilmu pengetahuan.

Perkembangan ilmu yang telah dimulai sejak permulaan Daulah Abbasiyah ini menjadi pendorong kebangkitan Eropa.

Setelah kebangkitan Eropa, mereka mempelajari ilmu-ilmu ini dan terbukti bahwa penyusun dan peletakkan dasar dasarnya berasal dari kaum muslimin. Salah satu ahli yang terkenal di bidang pertanian adalah Rasyiduddin Al-Shuwary.

Ahli agronomi ini mempunyai nama lengkap Mansur Ibnu Abi Fadl Ibnu Ali Rasyiduddin Al-Shuwary. Ia mashur sebagai ahli ilmu pengetahuan alam, ahli botani sekaligus dokter. Ilmuwan ini lahir tahun 1177 atau 1178.

Sejarah mencatat bahwa Rasyiduddin Al-Suwary adalah ahli botani yang menciptakan metode baru dalam menyelidiki tumbuh tumbuhan yang belum ada sebelumnya.

Sebagaimana ilmuwan lain pada umumnya, selain terkenal sebagai ahli botani, nama Rasyiduddin Al-Shuwary pun masyhur dalam bidang farmasi. Hal ini dapat kita buktikan dengan salah satu kitab farmasi karangannya yang berjudul “al-Adawiyah al-Mufradah” (obat-obat pilahan/ risalah tentang medis sederhana) yang uraiannya sangat teliti dan mendalam.
Tanggal 1 Rajab 639 Hijriah, Rasyidudin Shuwari, ahli flora dan tabib terkemuka muslim, meninggal dunia. Pada masa mudanya, dia melakukan perjalanan ke berbagai tempat dalam rangka mencari ilmu. Dia amat menitikberatkan perhatian terhadap penelitian tanaman obat. Hal inilah yang menjadi keistimewaan Shuwari. Banyak peneliti yang menyatakan bahwa Shuwari adalah peletak dasar keilmuan tanaman obat. Di antara karya Shuwari yang terpenting adalah sebuah ensiklopedia bergambar tentang ilmu flora.

Ref: Biografi Ilmuwan Muslim

Ilmuwan Muslim, Ibnu Al-'Awwam

Biografi Ibnu Al-'Awwam (Pakar Agronomi Pertama)

Beliau adalah ahli ilmu pertanian pertama yang paling dikenal dikalangan Islam asal andalusia. Namanya Abu zakaria Yahya ibn Muhammad ibn al awwam. Ia pakar pertama spesialisasi agronomi (ahli ilmu pertanian) dan sangat dikagumi oleh intelektual terkenal Ibn Khaldun, yang dianggap sebagai kampiun agronomi yang cukup berbobot.

Beliau dilahirkan di Seville dan hidup pada zaman kejatuhan peradaban Islam di Andalus. Walaupun beliau menghadapi kesukaran dan berbagai rintangan hidup, namun beliau tetap mampu menghasilkan kitab yang berkaitan dengan pertanian dan peternakan. Baginya kitab mengenai pertanian ini penting bagi umat manusia.

Kitab pertanian yang dihasilkannya itu berjudul “al-Filahah” yang mengandungi 34 bab. Ia terbagi kepada dua bahagian yaitu pertanian dan peternakan.

Bahagian pertama menceritakan cara memilih tanah dan bagaimana untuk menyuburkannya, memilih pupuk, menyalurkan air dan cara menanam dan memilih benih tumbuhan yang sama ada sesuai untuk ditanam atau tidak.

Seterusnya beliau menerangkan cara mengurus kebun baik dari cara memilih benih, jenis tumbuhan yang boleh ditanam yang sesuai dengan tanah serta kawasan.

Beliau juga menunjukkan cara bagaimana untuk menyuntik pohon, mengawinkan pohon, menyembuhkan penyakit pohon, serta cara menyimpan benih dan cara menyimpan buah-buahan yang kering atau basah.

Dalam bahagian kedua pada kitab “al-Filahah” pula, Ibnu Awwam menerangkan mengenai dunia penternakan hewan. Pada bab ini beliau menerangkan bagaimana menternak haiwan dan merawatnya termasuk cara pembedahan yang patut dilakukan atas haiwan sekiranya dihinggapi penyakit.

Kitab Tersebut juga mempunyai satu bab khusus mengenai cara-cara memelihara kuda, termasuk makanan hewan, dan perawatan yang harus diberikan. Selain itu beliau turut menerangkan bagaimana cara menunggang kuda, baik dengan membawa senjata atau tanpa senjata.

Ketinggian ilmu beliau dalam bidang penternakan tidak dapat dihitung. Beliau turut menerangkan cara untuk memelihara unggas dengan sempurna dan baik, beliau mampu mengulas secara terperinci.

Karena bukunya tentang pertanian dan penternakannya itu dianggap sangat berguna, maka ia telah diterjemahkan pada beberapa bahasa diantaranya bahasa Sepanyol (dicetak di Madrid-1802), Seville (1878) dan bahasa Perancis (dicetak di Paris 1865).

Dalam bidang tersebut, beliau telah mengkaji terlebih dahulu sebelum menghasilkan resolusi yang berkaitan dalam pertanian dan penternakan. Ibnu Awamm dianggap sebagai tokoh dan ilmuan yang sangat teliti dalam mengembangkan ilmu yang diketahuinya.

Beliau menulis bukan saja berdasarkan teori semata-mata tetapi berasaskan pengalaman yang dilakukannya terlebih dahulu dan mempraktikkannya.

Sekiranya sesuatu tumbuhan itu tidak sesuai di sesuatu kawasan, beliau akan menjelaskan sebab yang terjadi dan menerangkan apa yang harus dilakukan seterusnya. Ini membuktikan bahwa beliau seorang tokoh yang bertanggungjawab dan jujur dalam mengembangkan ilmu pertanian.

Selain itu, Ibnu Awwam juga sukses mencipta cara menghasilkan berbagai jenis bunga yang berwarna-warni dan menghasilkan buah epal di luar musim. Kisah tokoh ilmuan ini telah menjadi kebanggaan umat Islam pada masa kini.

Hasil karya-karya beliau telah banyak diterjemahkan dalam pelbagai bahasa untuk rujukan terutama para petani dan peladang.

Dalam riwayatnya, beliau pernah berkata ; “Sesiapa yang menyemai semaian atau terlibat dalam pertanian, lalu hasilnya dimakan oleh manusia, burung atau haiwan maka ia adalah sedekah bagi dirinya.”

Ref: Biografi Ilmuwan Muslim

Ilmuwan Muslim, Ibnu Bassal

Biografi Ibnu Bassal (Pakar Agronomi Islam) 

Muhammad Ibrahim Ibnu Bassal, tinggal di Toledo, Andalusia Spanyol. Ia mengabdikan dirinya khusus untuk agronomi. Dia juga melakukan pelayanan untuk al-Ma’mun Sultan Toledo (1038-1075), ia menulis sebuah risalah panjang tentang agronomi (Diwan al-filaha); pekerjaan ini adalah kemudian dipersingkat menjadi satu volume dengan enam belas bab.

Karya ini, yang diterjemahkan ke dalam bahas Spanyol, pada Abad Pertengahan, diterbitkan pada tahun 1955 bersama dengan teks bahasa Arab. Risalah Ibnu Bassal adalah tunggal dalam hal itu tidak mengandung referensi ke agronomi sebelumnya, tampaknya harus didasarkan hanya pada pengalaman pribadi penulis, yang terungkap sebagai yang paling asli.

Gambar beberap teks asli dari kitab Diwan Al- filaha
Catatan Ringkas berikut adalah tentang cara kerja alat mutakhir karya Ibnu Bassal pada abad kesebelas untuk memanfaatkan efek roda gila dalam saqiya [Alat yang berupa rangkaian pot untuk mengangkat air]. Berat A ditempatkan di belakang hewan pada tuas penarik yang berputar di sekitar poros vertikal dari saqiya . Kelembaman tambahan yang dihasilkan yang disimpan dalam berat diperlukan untuk operasi yang tepat dari saqiya tersebut. Menggunakan berat untuk menghasilkan efek roda gila, operasi akan menjadi lebih halus dan beban pada hewan akan diminimalkan. Bobot roda gila memungkinkan puncak dan lembah torsi menjadi berkurang.

Selain itu di dalam karyanya (Diwan al-filaha) berisi informasi tentang berbagai jenis bahan makanan dan bagaimana untuk menghasilkan mereka dan memelihara mereka, di samping metode dalam budidaya pertanian, irigasi, pengendalian hewan peliharaan dan mengolah tanah.

fakta lain mengenai riwayat hidupnya adalah bahwa Ibnu Al-Bassal pernah menjadi anggota misi diplomatik yang diutus ke Istana Al mohad dari Marrakush pada 542/1147M. Kanpium botani dan agromi ini, kendati cukup lama bermukim di Seville namun meninggal dunia di Kordoba Spanyol pada 499/1105.

Ref: Biografi Ilmuwan Muslim

Ilmuwan Muslim, Ibnu Al-Muqaffa

Biografi Ibnu Al-Muqaffa (Sastrawan & Penulis Arab) 

Ibn al-Muqaffa (720-756) nama lengkapnya adalah Abū Muhammad ʿAbd Allāh Rūzbih ibn Dādūya (Persian: ابو محمد عبدالله روزبه ابن دادویه‎) adalah penulis Arab yang berasal dari Persia. Dialah yang pertama kali melakukan penerjemahan dalam sejarah dan sastra Arab, baik dari segi isi maupun dari gaya ungkapnya. Penerjemahan itu mengakibatkan dua hal yang sangat penting : yaitu pindahnya bangsa Arab dari kehidupan bergaya Badui kepada kehidupan Modern dan keterlibatan orang bukan Arab dalam bidang penulisan sastra Arab.

Sebelum memeluk agama Islam, ia bergelar Abu Amr. Ia orang pertama yang menerjemahkan karya-karya sastra tentang kebudayaan India dan Persia ke dalam bahasa Arab dan merupakan orang pertama yang melahirkan karya prosa berbahasa Arab. Ayahnya, al-Mubarak, mendapat kepercayaan dari penguasa, al-Hajjaj bin Yusuf, untuk memungut pajak di wilayah Irak dan Iran. Karena ia melakukan tindakan penyalahguanaan hasil pajak tersebut, maka ia dihukum potong tangan. Sejak itulah nama belakangnya mendapat tambahan al-muqaffa yang berarti orang yang terpotong tangannya. Gelar inilah yang kemudian menjadi nama anaknya, Abu Muhammad ibnu al-Muqaffa.

Para pengikut nasionalisme yang menganggap bangsa bukan Arab lebih unggul dari bangsa Arab, telah gagal memberikan kesan bahwa kedudukan bahasa Arab sangat rendah. Mereka juga mengakui bahwa bahasa Al-quran milik orang muslim (apapun bahasa asli mereka) dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari hakikat Islam. Akan tetapi, mereka menolak bahwa kaidah-kaidah bahasa Arab didasarkan atas apa yang dipakai oleh orang Arab badui. Karena tidak ada sama sekali bukti yang memperkuatnya, misalnya seorang penyair yang bersal dari mereka. Jeleknya, orang badui malah dijadikan penghujat bagi masalah yang muncul dalam bahasa. Bukti yang paling nyata, menurut mereka, adalah adanya penulis atau pelajar yang mengatakan bahwa dirinya telah berbicara seperti halnya orang badui. Meskipun demikian, kehidupan umat-khususnya sejak awal kekhalifahan Abbasiyah telah jauh dari kehidupan badui.

Orang-orang yang berpengaruh dalam daulah itu, sebagian besar berasal dari Persia, tidak merasakan adanya hubungan emosional dengan kehidupan Arab, bahkan watak, nilai-nilai etika dan estetika pun berbeda. Orang-orang dinasti Abbasiyah, berkat kemampuan mereka sendiri, mampu berbicara seperti halnya orang badui. Akan tetapi, mereka tidak pernah mengisi pikiran mereka yang modern dan kaya itu dengan gaya ungkap bahasa lama. Oleh sebab itu meski diadakan perubahan yang sangat mendasar bagi model ungkapan bahasa Arab. Bahasa Arab harus dikembangkan sesuai perubahan yang terjadi dkehidupan umat. Itulah salah satu perubahan yang mungkin saja menyangkut pemikiran dan makna yang belum pernah terbertik dalam pikiran bangsa Arab terdahulu.

Ibn Al-Muqaffa adalah pakar dalam bidang yang satu ini. Dia menyisihkan bahasa Arab kuno, dan membangun gaya ungkap bahasa arab yang benar, mudah dan sederhana yang dapat mengungkapkan makna dan muatan katanya. Dia mengadakan revolusi besar besaran dalam bahasa Badui kuno, berikut kosakata yang sesuai dengan dunia modern. Dia melakukan penyederhanaan ( langsung kepada maksud ), penyusunan gramatikal yang jelas, selain menghindari pemakaian kata yang mengandung banyak arti, mengatur struktur pembicaraan, menghilangkan bentuk ungkapan takjub dan permintaan tolong serta memilih kata yang mudah dipahami dan menghindari setiap musykil yang terdapat dalam bahasa orang badui.

Ibn Al-Muqaffa berpendapat bahwa peniruan terhadap orang-orang terdahulu menjadi batu penghalang yang besar dalam perkembangan pemakaian ungkap baru. Karena itu dia memilih gaya ungkap yang bagus dan menarik, jelas, mudah dipahami dan gampang disampaikan. Dia menghindarkan diri dari tabiat kasar dan rumit orang-orang arab kuno, kemudian menggantinya dengan bahasa-bahasa yang mudah, teratur dan jelas. Gaya bahasanya biasa, tetapi mudah dipahami. Dengan cepat, gaya bahasa Ibn Al-Muqaffa diikuti oleh banyak orang dan dipakai dalam dunia sastra oleh para sarjana, penulis di dunia Islam.

Kerena pendidikan Ibn Al-Muqaffa banyak diperoleh dari Persia, dia sendiri sangat condong kepada Persia dan ingin menghidupkan umatnya dengan menyebarkan sastra, politik dan sejarah mereka, maka tidak aneh bila buku-buku Ibn Al-Muqaffa adalah buku yang mula-mula dipengaruhi oleh sastra asing, dengan memperluas makna dan konsepnya.

Dia banyak menerjemahkan buku dari bahasa Persia kedalam bahasa Arab. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa dialah yang pertama kali menyerukan penyatuan pemikiran yang tumbuh dari kerja sama, tanggung jawab, dan saling pengertian antar generasi, lintas waktu, diantara umat timur yang bermacam – macam. Hal yang sama kemudian direalisasikan oleh peradaban Islam dengan sangat baik setelah dia tiada yaitu, ketika peradaban Islam mulai hidup, kuat, dan sangat berpengaruh dalam kehidupan berbagai umat dan bangsa.

Keelokan hasil terjemahannya dapat dikatakan belum pernah ada pada jaman sebelum ataupun sesudahnya yang mampu menerjemahkan karya sastra kedalam bahasa Arab, yang tidak sama sekali bahwa karya sastra itu berasal dari bahasa Asing. Karya terjemahannya pertanda bahwa kedalaman bahasa Arab mudah dicerna dan enak dibaca.

Buku penting yng dia terjemahkan ialah Kalilah dan Daminah yang mampu memasuki ruang kesadaran bangsa Arab dan mampu mempengaruhi pikiran mereka, sebuah kemampuan yang tidak dimiliki oleh buku-buku lainnya, selain Al-Quran dan buku Alf Laylah wa laylah. Buku itu di cetak berkali kali di dunia Arab sejak cetakan pertama hingga jaman kita sekarang ini. Di beberapa Negara, buku ini dijadikan sebagai buku wajib di sekolah, sehingga tidak ada satupun cendikiawan atau pelajar yang belum pernah menelaah atau membaca buku itu, sebagian atau keseluruhannya.

Buku kalilah dan daminah telah diterjemahkan kedalam lebih dari dua puluh bahasa. Semuanya kebanyakan diterjemahkan dari terjemahan dari bahasa Arab yang dilakukan oleh Ibn Al-Muqaffa. Banyak penulis yang sangat terpengaruh oleh gaya sastra arab karena mengikuti Ibn Al-Muqaffa, baik dari segi gaya ungkap maupun cara mengkritik kondisi politik dan ketimpangan sosial pada masa itu, saat kebebasan mengungkapkan pendapat sudah tidak ada tempatnya.

Nilai etika yang tertuang dalam Kalilah wa Dimnah karya Ibnu Al-Muqaffa’ sebagaimana penulis buku ini sampaikan adalah sangat penting untuk dikemukakan, karena adanya kesenjangan pengetahuan etika Islam antara periode klasik dengan era modem. Hal itu menjadi satu perhatian yang serius karena masalah etika di zaman kontemporer khususnya perilaku pragmatis diliputi nilai-niIai materialistis yang kering akan maknawiyah hidup sesungguhnya. Bagaimana rumusan nilai-nilai etika dari fabel Kalilahwa Dimnah, adalah salah satu upaya yang signifikan dalam rangka menemukan jawaban terhadap masalah-masalah etis yang kongkret, terutama dalam persoalan hubungan antara etika, sosial-politik, dan agama pada masanya oleh Ibnu Al-Muqaffa’ dan relevansi hubungan antara etika, sosial-politik, dan agama pada masa kontemporer oleh para mujtahid.

Dalam pembahasan ini, penulis menggunakan metode kualitatif model studi Islam multidisipliner dengan pendekatan filsafat yang menggunakan perpaduan pendekatan temarik, strukturalistik-semiotik, resepsi,dan hipogram, dari disiplin ilmu sastra dan studi Islam.

Dalam ranah studi etika, kajian buku ini memberikan kontribusi keilmuan dalam dua hal: interkoneksitas keilmuan dan dua model etika sekaligus, yakni etika dltinjau dari sudut substansi fabel dan etika ditinjau dari sudut formal fabel. Dari substansinya adalah Etika Humanisme Klasik Moderat dan Etika Politik Posmodernisme-Klasik, sedang dari sudut formalnya adalah Etika Komunikasi Publik.

Buku ini diharapkan dapat dibaea oleh masyarakat luas, terutama para politisi, birokrat, para akademisi, mahasiswa, dan khususnya pemuka agama sehingga wawasan etika lebih baik khususnya ketika pada praktik moralnya dalam segala hal.
Ibn Al-Muqaffa menginginkan agar dirinya memiliki kesempatan untuk mengungkapkan kondisi social politik yang bobrok pada masa pemerintahan Abbasiyah dengan cara membandingkannya dengan tatanan politik yang sangat bagus di Persia. Pemikirannya yang asli ini banyak membawa hasil yang baik. Dialah orang yang pertama kali menjelaskan bahwa kemuliaan Akhlak kadang kala datang dari pemikiran dan filsapat, selain datang dari agama. Menurut pendapatnya, orang-orang yang berakhlak, tingkah lakunya pasti sesuai dengan agama dan filsapat dia sangat bangga bahwa dia berakhlak karena berfilsafat ansich. Jika seseorang mau melakukan perbuatan yang mulia, pasti dirinya akan mencapai derajat yang tinggi dan terhormat. Kalaulah perbuatan mulia itu tidak dianjurkan oleh agama, manusia tetap harus melakukan perbuatan yang mulia.

Ibn Al-Muqaffa adalah cendikiawan yang beradab, bukan seorang ahli agama atau ulama. Jikapun tulisannya menyinggung persoalan berbicara tentang akhlak, dia memberi penjelasan dan uraian secara rasional saja. Hamper tidak pernah mempertahankan pendapatnya dengan memakai dalil dari ayat al-Quran ataupun hadist.

Dalam sejarah kariernya, Ibnu al-Muqaffa menjabat sebagai sekeraris gubernur Bani Abbas di Kirman, dimana ia mendapat banyak kesempatan dan keberuntungan. Ketika Khalifah Abu Ja’far al-Mansur menyuruhnya membuat konsep surat perjanjian antara dia dan saudaranya, Abdullah bin Ali, yang melakukan pemberontakan, ia membuat beberapa pernyataan yang tidak menyenangkan bagi khalifah. Tindakan Ibnu al-Muqaffa ini, sudah barang tentu, mengundang kecurigaan dan kemarahan Khalifah al-Mansur. Khalifah al-Mansur memerintahkan Sufyan bin Mu’awiyah al-Muhallabi, gubernur Basra, agar melenyapkan sekretaris yang dinilai angkuh ini. Tepat di penghujung tahun 138 H/756 M Ibnu al-Muqaffa deksekusi secara tragis. Sebagian orang memendang bahwa eksekusi atas diri Ibnu al-Muqaffa tersebut terjadi karena ia dipandang sebagai kaum *zindik. Akan tetapi, bagaimanapun juga, peristiwa tragis itu lebih dilatarbelakangi oleh faktor politis dan sentimen pribadi ketimbang faktor agama.

Meskipun masa hidupnya relatif singkat, yaitu 30 tahun, Ibnu al-Muqaffa telah meninggalkan hasil terjemahan dan karya orisinil yang tidak sedikit jumlahnya. Namun hanya sebagian kecil dari karyanya tersebut yang masih ada hingga sekarang. Itupun masih diragukan keaslian dan kebenarannya. Di antara kitab tersebut adalah kitab Kalilah wa Dimnah atau Kalilah dan Dimnah (Yang Tumpul dan Keras) yang diterjemhkan oleh Ibnu al-Muqaffa dari bahasa Pahlavi ke dalam bahasa Arab. Kitab ini merupakan kumpulan dongeng-dongeng India yang berasal dari Pancatantra dan Tantrayana yang diterjemahkan ke dalam bahasa Pahlevi pada zaman Anusyirwan. Ia juga menerjemahkan kitab Khudainama dari bahasa Pahlevi, yang dalam bahasa Arabnya diberi judul Siyar Muluk al-‘Ajam (Kehidupan Raja-Raja Non-Arab). Di samping karya terjemahan, Ibnu al-Muqaffa juga mempunyai karya-karya orisinil sebagai ide dalam pemikirannya sendiri. Diantara karya orisinil tersebut adalah kitab ad-Durrah al-Yatimah fi Ta’ah al-Muluk (Mutiara Terbaik Dalam Mematuhi Raja), al-Adab as-Sagir (Sastra Kecil), al-Adab al-Kabir (Sastra Besar), dan beberapa risalah kecil lainnya.

Ref: Biografi Ilmuwan Muslim

Ilmuwan Muslim, Ibnu Haitham

Biografi Ibnu Haitham (Bapak Optik Pencipta Kamera)

Islam sering kali diberikan gambaran sebagai agama yang mundur dan memundurkan. Islam juga dikatakan tidak menggalakkan umatnya menuntut dan menguasai pelbagai lapangan ilmu. Kenyataan dan gambaran yang diberikan itu bukan saja tidak benar tetapi bertentangan dengan hakikat sejarah yang sebenarnya.

Sejarah telah membuktikan betapa dunia Islam telah melahirkan banyak golongan sarjana dan ilmuwan yang sangat hebat dalam bidang falsafah, sains, politik, kesusasteraan, kemasyarakatan, agama, pengobatan, dan sebagainya. Salah satu ciri yang dapat diperhatikan pada para tokoh ilmuwan Islam ialah mereka tidak sekedar dapat menguasai ilmu tersebut pada usia yang muda, tetapi dalam masa yang singkat dapat menguasai beberapa bidang ilmu secara bersamaan.

Walaupun tokoh itu lebih dikenali dalam bidang sains dan pengobatan tetapi dia juga memiliki kemahiran yang tinggi dalam bidang agama, falsafah, dan sebagainya. Salah seorang daripada tokoh tersebut ialah Ibnu Haitham atau nama sebenarnya Abu All Muhammad al-Hassan ibnu al-Haitham.

Namanya adalah Abu Ali Muhammad al-Hassan ibnu al-Haitham (Bahasa Arab: ابو علی، حسن بن حسن بن الهيثم) atau Ibnu Haitham (Basra,965 - Kairo 1039), dikenal dalam kalangan cerdik pandai di Barat, dengan nama Alhazen, adalah seorang ilmuwan Islam yang ahli dalam bidang sains, falak, matematika, geometri, pengobatan, dan filsafat. Ia banyak pula melakukan penyelidikan mengenai cahaya, dan telah memberikan ilham kepada ahli sains barat seperti Roger Bacon, dan Kepler dalam menciptakan mikroskop serta teleskop juga kamera obscura.

Dalam kalangan cerdik pandai di Barat, beliau dikenali dengan nama Alhazen. Ibnu Haitham dilahirkan di Basrah pada tahun 354H bersamaan dengan 965 Masehi. Ia memulai pendidikan awalnya di Basrah sebelum dilantik menjadi pegawai pemerintah di bandar kelahirannya. Setelah beberapa lama berkhidmat dengan pihak pemerintah di sana, beliau mengambil keputusan merantau ke Ahwaz dan Baghdad. Di perantauan beliau telah melanjutkan pengajian dan menumpukan perhatian pada penulisan.

Kecintaannya kepada ilmu telah membawanya berhijrah ke Mesir. Selama di sana beliau telah mengambil kesempatan melakukan beberapa kerja penyelidikan mengenai aliran dan saliran Sungai Nil serta menyalin buku-buku mengenai matematika dan falak. Tujuannya adalah untuk mendapatkan uang cadangan dalam menempuh perjalanan menuju Universitas Al-Azhar.

Hasil daripada usaha itu, beliau telah menjadi seo­rang yang amat mahir dalam bidang sains, falak, mate­matik, geometri, pengobatan, dan falsafah. Tulisannya mengenai mata, telah menjadi salah satu rujukan yang penting dalam bidang pengajian sains di Barat. Malahan kajiannya mengenai pengobatan mata telah menjadi asas kepada pengajian pengobatan modern mengenai mata.

Karya dan Penelitian
Peletak dasar penciptaan kamera

Prinsip-prinsip dasar pembuatannya telah dicetuskan oleh al-Haitham seorang sarjana Muslim, sekitar 1.000 tahun silam, tepatnya pada akhir abad ke-10 M.

Diakui atau tidak kamera merupakan salah satu penemuan dan karya manusia yang terbilang sangat fenomenal. Melalui kamera, manusia bisa merekam dan mengabadikan beragam bentuk gambar mulai dari sel manusia hingga galaksi di luar angkasa. Teknologi kamera kini dikuasai Jepang dan negara Barat.
Namun tahukah Anda bahwa prinsip-prinsip dasar kerja seluruh kamera telah diletakkan seribu tahun lalu oleh seorang sarjana Muslim? Peletak prinsip kerja kamera itu tak lain dan tak bukan adalah Ibnu Haitham. Dia adalah fisikawan Muslim terkemuka di era kekhalifahan. Beragam bidang ilmu seperti matematika, astronomi, kedokteran. dan kimia dikuasainya. Namun, dia paling jago dalam bidang optik dan fisika.

Salah satu karya Al-Haitham yang paling menumental adalah ketika bersama muridnya, Kamaluddin berhasil meneliti dan merekam fenomena kamera obscura. Penemuan itu berawal ketika Al-Haitham mempelajari gerhana matahari. Untuk mempelajari fenomena gerhana, Al-Haitham membuat lubang kecil pada dinding yang memungkinkan citra matahari semi nyata diproyeksikan melalui permukaan datar. 

Kajian ilmu optik berupa kamera obscura itulah yang mendasari kinerja kamera yang saat ini digunakan umat manusia. Oleh kamus Webster, fenomena ini secara harfiah diartikan sebagai ruang gelap. Biasanya bentuknya berupa kertas kardus dengan lubang kecil untuk masuknya cahaya. Teori yang dipecahkan Al-Haitham itu telah mengilhami penemuan film yang kemudiannya disambung-sambung dan dimainkan kepada para penonton. 


Istilah kamera obscura yang ditemukan Al-Haitham pertama kali diperkenalkan di Barat oleh Joseph Kepler (1571 M - 1630 M). Terinspirasi kamera obscura dari Al-Haitam, pada tahun 1827 Joseph Nicephore Niepce di Prancis mulai menciptakan kamera permanen. Sekitar 60 tahun kemudian George Eastman lalu mengembangkan kamera yang lebih canggih pada zamannya. Sejak itulah, kamera terus berubah mengikuti perkembangan teknologi.

Penemuan kamera obscura berawal ketika keduanya mempelajari gerhana matahari. Untuk mempelajari fenomena gerhana, al-Haitham membuat lubang kecil pada dinding yang memungkinkan citra matahari semi nyata diproyeksikan melalui permukaan datar. Oleh kamus Webster, fenomena ini secara harfiah diartikan sebagai ''ruang gelap''.

"Kamera obscura pertama kali dibuat oleh ilmuwan Muslim, Abu Ali Al-Hasan Ibnu al-Haitham, yang lahir di Basra (965-1039 M),''ungkap Nicholas J Wade dan Stanley Finger dalam karyanya berjudul The eye as an optical instrument: from camera obscura to Helmholtz's perspective.

Dunia mengenal al-Haitham sebagai perintis di bidang optik yang terkenal lewat bukunya bertajuk Kitab al-Manazir (Buku optik). Kitab al-Manazir merupakan buku pertama yang menjelaskan prinsip kerja kamera obscura. Untuk membuktikan teori-teori dalam bukunya itu, al-Haitham lalu menyusun Al-Bayt Al-Muzlim atau lebih dikenal dengan sebutan kamera obscura, atau kamar gelap.

Istilah kamera obscura yang ditemukan al-Haitham pun diperkenalkan di Barat sekitar abad ke-16 M. Lima abad setelah penemuan kamera obscura, Cardano Geronimo (1501 -1576), yang terpengaruh pemikiran al-Haitham mulai mengganti lubang bidik lensa dengan lensa (camera). Penggunaan lensa pada kamera obscura juga dilakukan Giovanni Batista della Porta (1535–1615 M). Joseph Kepler (1571 - 1630 M), meningkatkan fungsi kamera itu dengan menggunakan lensa negatif di belakang lensa positif, sehingga dapat memperbesar proyeksi gambar (prinsip ini digunakan dalam dunia lensa foto jarak jauh modern).Robert Boyle (1627-1691 M), mulai menyusun kamera yang berbentuk kecil, tanpa kabel, jenisnya kotak kamera obscura pada 1665 M. Setelah 900 tahun dari penemuan al-Haitham, pelat-pelat foto pertama kali digunakan secara permanen untuk menangkap gambar yang dihasilkan oleh kamera obscura.

Foto permanen pertama diambil oleh Joseph Nicephore Niepce di Prancis pada 1827. Tahun 1855, Roger Fenton menggunakan plat kaca negatif untuk mengambil gambar dari tentara Inggris selama Perang Crimean. Tahun 1888, George Eastman mengembangkan prinsip kerja kamera obscura ciptaan al-Haitham dengan baik sekali dan George Eastman lah yang menciptakan kamera kodak. Sebuah versi kamera obscura digunakan dalam Perang Dunia I untuk melihat pesawat terbang dan pengukuran kinerja. Pada Perang Dunia II kamera obscura juga digunakan untuk memeriksa keakuratan navigasi perangkat radio. Begitulah penciptaan kamera obscura yang dicapai al-Haitham mampu mengubah peradaban dunia. 

Peradaban dunia modern tentu sangat berutang budi kepada al-Haitham, yang selama hidupnya telah menulis lebih dari 200 karya ilmiah. Semua didedikasikannya untuk kemajuan peradaban manusia.Sayangnya, umat Muslim lebih terpesona pada pencapaian teknologi Barat, sehingga kurang menghargai dan mengapresiasi pencapaian yang telah dilakukan oleh para ilmuwan Muslim.

Secara serius al-Haitham mengkaji dan mempelajari seluk-beluk ilmu optik. Beragam teori tentang ilmu optik telah dilahirkan dan dicetuskannya. Dialah orang pertama yang menulis dan menemukan pelbagai data penting mengenai cahaya. Dalam salah satu kitab yang ditulisnya, Alhazen - begitu dunia Barat menyebutnya - juga menjelaskan tentang ragam cahaya yang muncul saat matahari terbenam. Al-Haitham pun mencetuskan teori tentang berbagai macam fenomena fisik seperti bayangan, gerhana, dan juga pelangi.

Menggambar Diagram Mata Secara Detail

Keberhasilan lainnya yang terbilang fenomenal adalah kemampuannya menggambarkan indra penglihatan manusia secara detail. Tak heran, jika 'Bapak Optik' dunia itu mampu memecahkan rekor sebagai orang pertama yang menggambarkan seluruh detil bagian indra pengelihatan manusia. Hebatnya lagi, al-Haitham mampu menjelaskan secara ilmiah proses bagaimana manusia bisa melihat. Teori yang dilahirkannya juga mampu mematahkan teori penglihatan yang diajukan dua ilmuwan Yunani, Ptolemy dan Euclid. Kedua ilmuwan ini menyatakan bahwa manusia bisa melihat karena ada cahaya keluar dari mata yang mengenai objek. Berbeda dengan keduanya, al-Haitham mengoreksi teori ini dengan menyatakan bahwa justru objek yang dilihatlah yang mengeluarkan cahaya yang kemudian ditangkap mata sehingga bisa terlihat. .

Secara detail, Al-Haitham pun menjelaskan sistem penglihatan mulai dari kinerja syaraf di otak hingga kinerja mata itu sendiri. Ia juga menjelaskan secara detil bagian dan fungsi mata seperti konjungtiva, iris, kornea, lensa, dan menjelaskan peranan masing-masing terhadap penglihatan manusia. Hasil penelitian al-Haitham itu kemudian dikembangkan Ibnu Firnas di Spanyol dengan membuat kaca mata.

Dalam Bidang Sains Lainnya
Yang lebih menakjubkan ialah Ibnu Haitham telah menemui prinsip isi padu udara sebelum seorang ilmuwan yang bernama Trricella yang mengetahui perkara itu 500 tahun kemudian. Ibnu Haitham juga telah menemukan kewujudan tarikan gravitasi sebelum Issaac Newton mengetahuinya. Selain itu, teori Ibnu Hai­tham mengenai jiwa manusia sebagai satu rentetan perasaan yang bersambung-sambung secara teratur telah memberikan ilham kepada ilmuwan barat untuk menghasilkan wayang gambar. Teori beliau telah membawa kepada penemuan film yang kemudiannya disambung-sambung dan dimainkan kepada para penonton sebagaimana yang dapat kita lihat pada masa kini.

Dalam Bidang Filsafat
Selain sains, Ibnu Haitham juga banyak menulis mengenai falsafah, logika, metafizika, dan persoalan yang berkaitan dengan keagamaan. Beliau turut menulis ulasan dan ringkasan terhadap karya-karya sarjana terdahulu.

Penulisan falsafahnya banyak bertumpu kepada aspek kebenaran dalam masalah yang menjadi pertikaian. Beliau juga berpendapat bahawa kebenaran hanyalah satu. Oleh sebab itu semua dakwaan kebenaran wajar diragukan dalam menilai semua pandangan yang telah ada. Jadi, pandangannya mengenai falsafah, amat menarik untuk disoroti.

Bagi Ibnu Haitham, falsafah tidak boleh dipisahkan daripada matematika, sains, dan ketuhanan. Ketiga-tiga bidang dan cabang ilmu ini harus dikuasai dan untuk menguasainya seseorang itu perlu menggunakan masa mudanya dengan sepenuhnya. Apabila umur semakin meningkat, kekuatan fisik dan mental akan turut mengalami kemerosotan.

Sumbangan Ibnu Haitham
Teori Hukum Pembiasan (fenomena atmosfera)
Selama di Spanyol, Ibnu Haitham melakukan beberapa penyelidikan dan percobaan ilmiah berhubungan dengan bidang optik. Penemuannya yang terkenal ialah “hukum pembiasan”, yaitu hukum fisika yang menyatakan bahwa sudut pembiasan dalam pancaran cahaya sama dengan sudut masuk. Menurut pengamatan Ibnu Haitham, beliau berpendapat bahwa cahaya merah di kaki langit di waktu pagi (fajar) bermula ketika matahari berada di 19 derajat di bawah kaki langit. Sementara cahaya warna merah di kaki langit di waktu senja (syuruk) akan hilang apabila matahari berada 19 derajat di bawah kaki langit selepas jatuhnya matahari. Dalam fisika moden, hukum ini dikenali dengan nama “hukum pembiasan Snell” yang bersempena nama ahli fisika Belanda, Willebrord van Roijen Snell.

Teori Penglihatan (optik)
Dengan menggunakan kaedah matematik dan moden fizik yang baik beliau dapat membuat eksperimen yang teliti, Ibnu Haitham telah meletakkan optik pada batu asas yang kukuh. Beliau telah menggabungkan teori dan eksperimen dalam penyelidikannya. Dalam penyelidikan, beliau telah mengkaji gerakan cahaya, ciri-ciri bayang dan imej dan banyak lagi fenomena optik yang penting. Beliau telah menolak teori Ptolemy dan Euclid yang mengatakan bahwa manusia melihat benda melalui pancaran cahaya yang keluar dari matanya. Tetapi menurut Ibnu Haitham, bukan mata yang memberikan cahaya tetapi benda yang dilihat itulah yang memantulkan cahaya ke mata manusia.

Cermin Kanta Cekung Dan Kanta Cembung
Ibnu Haitham telah menggunakan mesin lathe (larik) untuk membuat cermin kanta cekung dan kanta cembung untuk penyelidikannya. Dengan ini beliau telah mengkaji tentang cermin sfera dan cermin parabolik. Beliau mengkaji Aberasi Sfera dan memahami bahwa dalam cermin parabola kesemua cahaya dapat tertumpu pada satu titik.

Teori Biasan Cahaya
Teori ini agak mengagumkan, beliau telah menggunakan segi empat halatuju pada permukaan biasan beberapa abad sebelum Isaac Newton memperkenalkannya di dunia Barat. Beliau juga percaya kepada prinsip masa tersingkat bagi rentasan cahaya (Prinsip Fermat).

Ahli Bidang Filsafah
Ibnu Haitham telah disenaraikan diantara salah seorang ahli falsafah Aristo. Dikalangannya adalah sahabat beliau yaitu Ibnu Sina dan al-Biruni. Ibnu Haitham mendahului Kant lebih tujuh abad lamanya. Teori yang dilebalkan dari Kant sebenarnya datang dari beliau yaitu: “bahwa untuk mencapai kebenaran hendaklah dengan mengetahui pendapat-pendapat yang berunsur kepada kenyataan yang dapat digambarkan dengan akal rasional”.

Bidang Astronomi
Beliau melanjutkan pendapat ilmuwan Yunani tentang proses pengubahan langit abstrak menjadi benda-benda padat. Dalam karya astronominya, beliau melukis gerakan planet-plenet, tidak hanya dalam terma eksentrik dan episiklus, tetapi juga dalam satu model fizik. Pendapatnya banya mempengaruhi Dunia Pemikiran Barat pada zaman Johannes Kepler. Tiga abad kemudian karya ini ditukar dalam bentuk ikhtisar oleh astronomi muslim yaitu Nasiruddin at-Tusi.

Bidang Fisika
Dalam bidang fisika Ibnu Haitham telah mengkaji tentang gerakan yang membawa beliau menemui prinsip intersia dan statik. Beliau telah mengasaskan dan menjadikan optik menjadi satu sains baru. Banyak kajian beliau telah mendahului dan diikuti oleh Francis Bacon,Leonardo da Vinci, dan Johannes Kepler.

Karya
Ibnu Haitham membuktikan pandangannya apabila beliau begitu bergairah dalam mencari dan mendalami ilmu pengetahuan pada masa mudanya, sehingga kini beliau berjaya menghasilkan banyak buku dan makalah. Buku-buku karyanya antara lain:

    Al'Jami' fi Usul al'Hisab, yang mengandungi teori-teori ilmu metametika dan metametika penganalisaannya;
    Kitab al-Tahlil wa al'Tarkib, mengenai ilmu geometri; 
    Kitab Tahlil ai'masa^il al 'Adadiyah, tentang algebra; 
    Maqalah fi Istikhraj Simat al'Qiblah, yang mengupas tentang arah kiblat bagi segenap rantau; 
    Maqalah fima Tad'u llaih, mengenai penggunaan geometri dalam urusan hukum syarak 
    Risalah fi Sina'at al-Syi'r, mengenai teknik penulisan puisi.

Sumbangan Ibnu Haitham kepada ilmu sains dan falsafah amat banyak. Kerana itulah Ibnu Haitham dikenal sebagai seorang yang miskin dari segi material tetapi kaya dengan ilmu pengetahuan. Beberapa pandangan dan pendapatnya masih relevan, hingga saat ini.

Walau bagaimanapun sebahagian karyanya lagi telah "dicuri" oleh ilmuwan Barat tanpa memberikan penghargaan yang patut kepada beliau. Tapi sesungguhnya, barat patut berterima kasih kepada Ibnu Haitham dan para sarjana Islam karena tanpa mereka kemungkinan dunia Eropa masih diselubungi kegelapan.

Kajian Ibnu Haitham telah menyediakan landasan kepada perkembangan ilmu sains dan pada masa yang sama tulisannya mengenai falsafah telah membuktikan keaslian pemikiran sarjana Islam dalam bidang ilmu tersebut yang tidak lagi terbelenggu oleh pemikiran filsafat Yunani.

Ibnu Haitham dihargai sebagai ilmuwan optika terbesar sepanjang abad, sejajar dengan Ptolemeus dan Witelo yang menjadi perintis ilmu optika dunia. Berkat pemikiran-pemikirannya lah maka ilmu optika mencapai taraf kemajuan yang mencengangkan. Terutama di abad milenium, ketika benda-benda optika tak terpisahkan dari kebutuhan hidup manusia modern. Ibnu Haitham meninggal di Kairo, Mesir, pada tahun 1039.

Ref: Biografi Ilmuwan Muslim